Renungan Raina Tilem Jiestha, Kemiskinan, Indikasi Kegagalan Pemimpin dalam Menjalankan “Dharma”nya

0
144

Ilustrasi

Hari ini, Kamis, 6 Juni 2024, raina Tilem sasih Jiestha, Icaka 1946, bersamaan dengan perayaan 123 tahun Soekarno. Momentum untuk berefleksi tentang peran kepemimpinan, dalam dinamika masyarakat yang terus bertumbuh.

Dalam karya sastra Ramayana dan Mahabaratha, bertebaran pengetahuan, kearifan pengetahuan tentang: filsafat, etika dan ethos kerja kepemimpinan, yang menjadi “batu penjuru”, tolok ukur, bagaimana semestinya kepemimpinan dijalankan. DHARMA Kepemimpinan.
Dialog Kresna dan Arjuna yang menjadi inti pembahasan dalam Bhagavad Githa tentang Dharma kesatria, Dharma seorang pemimpin tentang: kesetiaan, keberanian, sikap hidup tanpa pamrih, bebas dari keterikatan dalam membela kehormatan dan kemuliaan negeri. Nasihat Rama kepada Wibisana, di menjelang menjadi raja (pasca Rahwana gugur), dalam ASTA BRATHA yang terkenal itu, pemimpin mesti punya laku meniru sifat 8 Dewa. Yang maknanya Dharma pemimpin adalah kemuliaan kehidupan, bermakna buat masyarakat yang dipimpin. Dharma pemimpin yang utama, menghindarkan rakyat dari PAPA, miskin secara materi dan terhina secara rohani.
Dalam konteks kini, kemiskinan: ekstrim, hidup di bawah garis kemiskinan, rentan menjadi miskin, akibat kemiskinan struktural dan kultural, berbarengan dengan kemiskinan rohani yang menjadi fenomena sosial, bentuk kegagalan kepemimpinan dalam menjalankan “dharma”nya.

Jro Gde Sudibya, pendiri, sekretaris LSM Kuturan Dharma Budaya.

Baca Juga :  Wagub Cok Ace Hadiri Sosialisasi, Mekanisme dan Pembagian Set Top Box 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here