Refleksi Raina Kuningan, Kepemimpinan Dua Sisi dari Sebuah Mata Uang

0
256

Rabu, 3 Mei 2025, raina Tumpek Kuningan. Di tengah ketidak-pastian ekonomi politik, terutama akibat perang tarif yang dipicu oleh kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump, perang tarif yang bisa mengarah ke perang dagang. Dalam sejarah Perang Dunia Kedua , perang tarif memicu perang dagang, mengakibatkan depresi ekonomi, great depresion di era tahun 1930’an, yang kemudian menurut para sejarahwan menjadi pemicu Perang Dunia Kedua..
Sejarah mencatat, Perang Dunia Kedua melahirkan kerugian yang sangar besar: harta, manusia, peradaban dan kebudayaan.
Risiko Perang Tarif dan Perang Dagang bagi perekonomian Indonesia, yang sedang mengalami tekanan luar biasa, bisa berdampak semakin buruk terhadap: kondisi fiscal yang mengalami “pendarahan” akibat besarnya defisit tahun 2025 ini, daya beli masyarakat menengah kebawah yang sangat tertekan akibat PHK besar-besaran, sekitar 10 juta kelas menengah dalam lima tahun terakhir, “tersungkur” menjadi kelompok masyarakat yang rentan menjadi miskin. Menurut data dan ulasan Bank Dunia, dengan menggunakan tolok ukur garis kemiskinan, pengeluaran per orang per hari US.Dolar 6,85, karena Indonesia telah masuk sebagai negara dengan kategori pendapatan kelas menengah, jumlah orang miskin 60,30 persen dari jumlah penduduk, setara dengan 172 juta orang pada tahun 2024. Jumlah angka kemiskinan yang sangat besar, yang sekaligus menggambarkan rendahnya taraf hidup sebagian besar warga negara.
Persoalan sosial ekonomi Indonesia begitu besar, di tengah risiko Perang Tarif yang mengarah ke Perang Dagang, dengan bayang-bayang perang fisik antar negara.
Kepemimpinan mempunyai fungsi sentral, tamsilnya: dua sisi dari sebuah mata uang yang sama, Pemberi Harapan VS Menambah Beban Derita Rakyat yang Tidak Berkesudahan.
Pemberi harapan -great hope-, dalam konteks tantangan bangsa dewasa ini, mampu melahirkan pemimpin otentik yang pro rakyat, cerdas dan trengginas dalam mengelola risiko Perang tarif dan Perang Dagang, untuk kemaslahatan publik. Bertanggung jawab dalam mengelola dana APBN, untuk mengurangi derita rakyat, yang dalam sepuluh tahun terakhir standar hidup mereka mengalami kemerosotan.
Pemimpin berbasis spiritualitas, jika menyimak laku kepemimpinan dari Prabu Erlangga, putra Bali yang menjadi raja di Jawa Timur. Konon sang raja, sebelum melakukan kunjungan kerja, melakukan meditasi mulai “galang kangin”, pada tingkat samadhi untuk menentukan kemana arah perjalanan dilakukan, dan permasalahan apa yang mesti diselesaikan di lapangan hari itu.
Pada sisinya yang lain, dalam posisi yang kontras, pemimpin yang selalu haus kuasa, tidak berempati dan tidak peduli pada kepentingan rakyat, kesembronoan lakunya, akan menjadi beban derita berkepanjangan bagi rakyat.

Baca Juga :  PPKM Resmi Dicabut Pemerintah

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di “Kaja Kangin” Bukit Sinunggal, Den Bukit, Bali Utara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here