SFF 2025 Ajak Generasi Muda Bijak dalam Konsumsi Pakaian

0
298

Balinetizen.com, Denpasar

Sustainable Fashion Festival (SFF) 2025 kembali hadir dan akan digelar pada 2–3 Agustus 2025 di The Ambengan Tenten, Denpasar. Mengusung semangat fesyen berkelanjutan, kegiatan ini diawali dengan dua rangkaian pra-acara, yakni edukasi di SMPN 5 Abiansemal, Badung pada 28 Juli, dan bazar amal di Sungai Watch Community Center, Tabanan pada 29 Juli.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Rekynd dan TRI Cycle, serta melibatkan para youth volunteers dari 10 negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Di SMPN 5 Abiansemal, sekitar 1.050 siswa diperkenalkan pada konsep fesyen berkelanjutan. Mereka belajar mengenal jenis kain seperti katun, linen, dan polyester, serta dampaknya terhadap lingkungan. Sesi kemudian dilanjutkan dengan pelatihan penyortiran pakaian bekas oleh siswa OSIS dan workshop kreatif membuat gantungan kunci dari potongan kain bekas, diikuti oleh 350 siswa.

“Anak-anak sempat bingung karena perbedaan bahasa dengan para youth volunteers, tapi mereka tetap antusias dan hasil karyanya melebihi ekspektasi,” ungkap panitia. Para relawan muda ASEAN juga merasa mendapat pengalaman berharga dalam kegiatan lintas budaya ini.

Keesokan harinya, kegiatan berlanjut di Sungai Watch Beraban dengan bazar amal. Pakaian bekas layak pakai yang telah disortir dijual dengan harga Rp 5.000,- dan Rp 10.000,-. “Kami percaya pakaian layak pakai harus dapat diakses semua orang tanpa memandang latar belakang ekonomi,” ujar Lucia Mira, Co-Founder Rekynd.

Lucia menambahkan, inisiatif ini bertujuan mengurangi limbah tekstil yang berpotensi mencemari lingkungan. “Daripada ke TPA, lebih baik kita berikan kepada yang membutuhkan,” tegasnya.

Bazar ini juga melibatkan dukungan Sungai Watch serta TUKR, mitra lokal yang bergerak di bidang energi terbarukan dari Used Cooking Oil (UCO). Pengunjung bahkan dapat membeli minyak hasil daur ulang ini seharga Rp 5.000,- per liter.

Baca Juga :  APBD 2026 Bangli Disetujui: Langkah Strategis Menuju Pembangunan Berkelanjutan

“Sungai Watch dan Rekynd sama-sama peduli lingkungan. Kami ingin masyarakat paham bahwa limbah pakaian sangat sulit terurai dan tak seharusnya dibuang sembarangan,” ujar I Nyoman Mudita, Community Leader Sungai Watch.

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–15.00 WITA ini berhasil menyelamatkan banyak pakaian dari potensi jadi sampah dan sekaligus memberi manfaat langsung ke masyarakat. Wulan, salah satu warga yang datang, mengaku awalnya hanya penasaran, namun akhirnya membeli cukup banyak karena harga yang terjangkau.

Seluruh hasil penjualan akan digunakan kembali untuk mendukung program sosial dan keberlanjutan dari Rekynd dan TRI Cycle. Semangat kolaboratif dari anak muda ASEAN dan berbagai pihak menjadi bukti bahwa perubahan nyata di industri fesyen bisa dimulai dari langkah kecil namun bermakna.

Sustainable Fashion Festival 2025 diharapkan menjadi ruang refleksi dan aksi konkret menuju sistem fesyen yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here