Umat Hindu Bali Terjepit : Sandya Kalaning Bali, Tetua Bali Tempo Doloe Telah Mengingatkan

0
173

Konten Kreator dan pengamat Sosial Guru Gembul

 

Balinetizen.com, Denpasar

Konten kreator dan pengamat Sosial Guru Gembul menyebut Bali kini menghadapi ancaman serius. Berkembangnya pemeluk agama lain dan masuk ajaran Hindu India umat Hindu Bali semakin terjepit.

Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Kuturan Dharma Budaya, setuju dengan pernyataan dan kerisauan Guru Gembul.

Menurutnya, ini akibat rapuhnya keimanan/sradha masyarakat Bali dalam mengelola dan merespons perubahan. Di depan mata kita saksikan terjadi pelanggaran etika dan moral semakin terlihat nyata.

Dikatakan, kerapuhan keimanan, karena Desa Pakraman sebut saja di era Bali Mula mempunyai multi fungsi: kepemimpinan bersama yang merakyat, latihan kepemimpinan pemberi teladan, pengembangan ethos kerja yang dekat dengan alam, lokus, tempat pengembangan spiritulitas, kehilangan perannya.

Menurutnya, peran ini tidak lagi diambil oleh Desa Adat dan juga Desa Dinas di Bali.

“Tidak lahir model pasraman untuk mendidik generasi baru Bali, tentang sastra keimanan, disiplin, ketrampilan baru untuk merespons tantangan baru perubahan,” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, tanpa sistem pendidikan agama Hindu (dengan tradisi Bali yang kental), dalam bentuk Pasraman nyaris tidak mungkin lahir generasi baru Bali yang kuat dalam karakter.

Menurutnya, muncul fenomena kerapuhan karakter, hidup tanpa disiplin, “serba boleh” toleransi kebablasan terhadap sesuatu yang datang dari luar, yang akhirnya membuat keimanan orang Bali rapuh, limbung dan kemudian menyerah kalah.

“Kondisi menjadi semakin parah, masyarakat dengan orientasi vertikal panutan, kehilangan panutan, karena umumnya pemimpin tidak lagi menjadi panutan,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurutnya, semestinya, pemimpin di Bali “satya wacana” tetapi yang muncul “nitya wacana”. Semestinya berkorban total “ruruban gumi”, justru mengambil, mencuri di luar batas kepatutan. Terjadi anomali, kekacauan peran di masyarakat.

Baca Juga :  Sekda Adi Arnawa Jadi Narasumber Dalam Talkshow “Dedikasi Untuk Ibu Pertiwi”

Menurut Jro Gde Sudibya, risiko ini sudah diperhitungkan oleh tetua Bali tempo doloe, dengan ucapan bersayap sarat makna, kalau kalian “tilar ring sesana”, melanggar etika kehidupan, silahkan kalian meninggalkan Desa, cukup satu orang untuk merawat tradisi, melanjutkan kehidupan yang punya kualifikasi mampu mengembangkan viveka dalam diri yang merupakan “lontar tanpa tulis”.

“Peringatan keras dari tetua Bali tempo dulu, terlebih-lebih bagi pemimpin yang “tilar ring sesana”, melanggar etika dan moral kepemimpinan,” kata Jro Gde Sudibya pendiri dan sekretaris Kuturan Dharma Budaya.

Dikatakan, rujukan sastra mengenai hal ini ada “segudang” , menyebut beberapa prasasti: Sukawana, Buahan, puluhan prasasti yang tersimpan di Buahan, Kedisan dan juga Batur.

“Mutiara kepemimpinan yang kaya, yang sekarang sayup-sayup diwacanakan, akan tetapi dalam realitas sosial begitu saja dicampakkan. Miris,” kata Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Kuturan Dharma Budaya, LSM yang melakukan sosialisasi pemikiran Mpu Kuturan Raja Kertha.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here