Bukan Beach Club yang Dicari Bule, Tapi Balangan yang Masih Asli

0
191

Ket foto : Keindahan Pantai Balangan yang masih original bule minta pertahankan (dok. Wids Modestys)

 

Balinetizen.com, Badung

Matahari tepat berada di atas kepala saat kami menyusuri jalan aspal menuju Pantai Balangan. Panas menyengat terasa sepadan dengan tensi yang menggelayuti kawasan ini. Balangan kini tak sekadar dikenal sebagai surga peselancar, tetapi juga menjadi medan tarik-menarik antara kekuatan modal dan penjaga nilai-nilai tradisi.

Sebelum kaki menyentuh pasir, tanda-tanda konflik sudah lebih dulu menyapa. Sebuah plang besar berdiri mencolok di sisi kiri jalan, dipagari kawat berduri. Nama konglomerat Hari Boedi Hartono tertera jelas. Tak jauh dari situ, dua plang lain tampak bertumpuk dan saling menindih—seakan berlomba mengklaim ruang dan kebenaran.

Satu plang milik pihak investor, sementara satunya lagi dipasang oleh Pengempon Pura Dalem Desa Adat Balangan. Papan-papan besi itu bukan sekadar penanda kepemilikan, melainkan simbol “perang dingin” atas lahan seluas kurang lebih 70 are. Nilainya fantastis, ditaksir menembus Rp70 miliar—angka yang membuat kawasan pesisir ini kian panas.

Di tengah sengketa yang meruncing, Balangan justru menyuguhkan wajah Bali yang makin langka. Deretan warung kayu berdiri sederhana. Tidak ada dentuman musik keras, tak ada lampu sorot ala beach club. Yang terdengar hanya debur ombak dan suara papan selancar menghantam air.
“No beach club. Saya suka yang masih original seperti ini,” ujar Chris, wisatawan asing yang bersiap turun ke laut dengan papan selancarnya.

Ucapan singkat itu seolah mewakili kegelisahan banyak wisatawan mancanegara. Bagi mereka, Balangan adalah kemewahan dalam bentuk kesederhanaan—pantai alami, ombak konsisten, dan suasana tenang tanpa hiruk pikuk komersialisasi berlebihan. Ironisnya, kesederhanaan itu kini justru dipagari kawat berduri.

Baca Juga :  ICHI Bali Terima Ahli Menejemen Pura dari India : Dikusikan Menejemen Pura di Tengah Perkembangan Pariwisata

Akses masuk ke pantai masih dijaga. Wisatawan diminta memberikan donasi seikhlasnya untuk melewati jalur yang status lahannya masih abu-abu. Situasi ini menciptakan paradoks: pantai yang dicintai karena kealamiannya justru terancam oleh ambisi pembangunan.

Di sisi utara, Pura Dalem Balangan berdiri teguh menghadap laut. Di satu sisi pura, semak belukar tumbuh liar tak terurus. Di sisi lain, denyut pariwisata tetap berjalan lewat penyewaan papan selancar dan deretan long chair. Kontras ini menjadi potret telanjang bagaimana pariwisata, modal, dan nilai religius saling berhimpitan di satu garis pantai.

Namun ketenangan di bibir pantai tak sejalan dengan riuh konflik di balik meja hukum. Sengketa ini telah bergulir menjadi bola salju panjang. Pengempon Pura Dalem Balangan melaporkan dugaan maladministrasi ke Ombudsman RI, menuding keterlibatan mantan Kepala BPN Badung yang kini menjabat Kepala BPN Bali, I Made Daging.
Hari ini, Jumat (30/1/2026), menjadi momen krusial. Saat para peselancar bersiap menantang ombak Balangan, I Made Daging yang telah ditetapkan menjadi tersangka dijadwalkan menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Bali atas dugaan pemalsuan surat, sekaligus menghadapi sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Denpasar.

Balangan kini benar-benar berada di persimpangan. Di satu sisi, ombak membawa ketenangan bagi mereka yang datang mencari alam dan keaslian. Di sisi lain, sengketa lahan mempertaruhkan martabat tanah adat dan integritas birokrasi.

Pertanyaannya sederhana, namun krusial: akankah Balangan tetap “its original”, atau menyusul pantai-pantai lain yang tenggelam oleh beton dan dentuman musik beach club?

(Jurnalis: Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here