Ket foto : lokasi lahan pura dalem balangan yang kini disengketakan (dok.Wids Modestys)
Balinetizen.com, Badung
Matahari tepat berada di atas kepala saat kami menyusuri jalan aspal menuju Pantai Balangan. Udara panas yang menyengat seolah mewakili tensi tinggi yang menyelimuti lahan di ujung selatan Bali ini.
Balangan bukan lagi sekadar surga bagi para peselancar; ia kini menjadi arena tanding antara kekuatan modal dan penjaga tradisi.
​Belum juga kaki menyentuh pasir, aura perselisihan sudah menyapa. Sebuah plang besar berdiri angkuh di sisi kiri jalan, dibentengi kawat berduri yang tajam. Di sana terpatri nama besar: Hari Boedi Hartono. Namun, pemandangan kontras terlihat di titik lain. Dua plang tampak bertumpuk, saling tindih, seolah sedang berebut ruang bicara.
​Satu plang mewakili sang konglomerat, sementara yang lain dipasang oleh Pengempon Pura Dalem Desa Adat Balangan. Papan-papan besi itu bukan sekadar penanda, melainkan simbol “perang dingin” atas lahan seluas kurang lebih 70 are. Di atas kertas, nilai tanah ini fantastis—menembus angka Rp70 miliar. Sebuah angka yang cukup untuk membuat siapa pun menoleh.
​
​Di balik sengketa yang meruncing, Balangan masih menawarkan ketenangan yang langka di Bali modern. Warung-warung kayu sederhana berdiri berderet. Tidak ada musik dentum beach club yang memekakkan telinga.

Ket foto : dua plang bertumpuk yang satu milik konglomerat Hari Boedi Hartono yang kedua, ditimpa diduga dipasang oleh pihak pura pengempon, kasus ini diatensi oleh Polda Bali. (Dok. Wids Modestys)
​”No beach club. Saya suka yang masih original seperti ini,” ujar Chris, seorang wisatawan asal Arab yang hendak bermain surfing. Yak, ombak Balangan merupakan surga bagi para peselancar terutama wisatawan asing yang ingin menjajal kemampuannya di pantai ini.
Baginya, Balangan adalah kemewahan dalam bentuk kesederhanaan. Namun, kesederhanaan itu kini dipagari kawat berduri. Akses masuk pun masih dijaga, di mana pelancong diminta donasi seikhlasnya untuk melewati jalur yang statusnya masih abu-abu tersebut.
​
​Di titik paling utara, Pura Dalem Balangan berdiri teguh. Di satu sisi, semak belukar tumbuh liar tak terurus. Di sisi lain, denyut pariwisata berdetak lewat penyewaan papan selancar dan deretan long chair. Kontras ini menjadi potret nyata bagaimana pariwisata, modal, dan religi berhimpit di satu garis pantai yang sama.
​
​Namun, ketenangan di bibir pantai tak berbanding lurus dengan apa yang terjadi di ruang sidang. Kasus ini telah meluas menjadi bola salju hukum. Pihak Pengempon Pura telah melapor ke Ombudsman RI, menuding adanya mal administrasi yang dilakukan oleh mantan Kepala BPN Badung (kini Kepala BPN Bali), I Made Daging.
​Hari ini, Jumat (30/1/2026), menjadi hari yang menentukan. Saat para peselancar bersiap menantang ombak Balangan, I Made Daging harus berhadapan dengan hukum. Ia dijadwalkan menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Bali atas dugaan pemalsuan surat, sekaligus menanti nasib di sidang praperadilan di PN Denpasar.
​Balangan kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi ada deru ombak yang membawa kedamaian bagi para pelancong, di sisi lain ada riuh sengketa yang mempertaruhkan martabat tanah adat dan integritas birokrasi.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

