Ilustrasi
Balinetizen.com, Denpasar
Denpasar dan Sekitarnya Kembali Diterjang Banjir, Pasca Banjir Bandang 10 September 2025. Tetap Pemda Bali dengan Program Pencitraan dengan Biaya Ratusan Milyar Rupiah?
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali 1999 – 2004, pengamat ekonomi dan lingkungan, Kamis 26 Februari 2026.
“Inilah prahara Bali yang ke dua. Yang pertama “banjir bandang” 10 September 2025 yang membuka kotak pandora mengalami darurat lingkungan, “benyah latig” dengan kerusakan nyaris tidak terpulihkan.
Menurut Jro Gede Sudibya, Pemda Bali, dengan juga pemda kabupaten dan kota, bertindak biasa-biasa saja, “business as usual” seakan-akan tidak terjadi krisis.
“Tampak tidak ada “sense of crisis” dengan dana memadai untuk menyelamatkan sungai, DAS, dan lingkungan danau,” katanya.
Menurutnya, tidak ada publikasi di medsos tentang proyek: pengerukan sungai, normalisasi DAS, program penyelamatan danau dan lingkungan pesisir. Kondisi lingkungan semakin rusak, “benyah latig”, tuan-puan penguasa tetap “berpesta ria” dengan pencitraan, dengan anggaran ratusan milyar rupiah.
Dikatakan, pesta palsu pencitraan terus berlangsung, berbarengan bencana hidrometrologi yang semakin dashyat.
Diberitakan, dalam beberapa hari terakhir di Denpasar ada 100 titik yang kebanjiran dan atau potensi tinggi kebanjiran. Pemda Bali telah gagal dalam merespons krisis akibat krisis iklim.
Dari pakar lingkungan hidup dunia yang tergabung dalam Komisi Lingkungan Hidup PBB, merujuk Kesepakatan Paris (2016), pemanasan global di atas 1,5 derajat celsius, banyak negara akan mengalami kesulitan dalam menghadapi krisis iklim.
Dikatakan, Bali dalam 70 tahun terakhir, 1950 – 2020 suhu permukaannya telah naik 1,9 derajat celsius, jauh lebih tinggi dari Kesepakatan Paris (2016) 1,5 derajat celsius, sehingga kerusakan alam akibat hidrometrologi akan semakin membesar di masa yang akan datang.
“Siap-siap Bali “benyah latig” dengan skala lebih besar. Tetap dengan program pencitraan dengan dana negara ratusan milyar rupiah, sekaligus terus bersuka-cita dengan kesuksesan palsu?,” kata Jro Gde Sudibya, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali 1999 – 2004, pengamat ekonomi dan lingkungan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

