Wisatawan Domestik Turun 15 Persen, Penjualan Ritel Bali Tetap Positif

0
155

Ket foto : ilustrasi penjualan ritel meningkat meski kunjungan wisatawan domestik menurun di Bali (pixabay)

 

Balinetizen.com, Denpasar

 

Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali pada Februari 2026 masih menunjukkan tren positif secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang mencapai 124,3, atau tumbuh 6,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Meski demikian, secara bulanan IPR Bali tercatat sedikit melambat sebesar 0,1 persen (month to month/mtm).

Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh periode low season wisatawan serta faktor musiman setelah libur Tahun Baru Januari 2026.

Selain itu, momentum Ramadan dan Idul Fitri juga turut memengaruhi pergerakan kunjungan wisatawan domestik, yang cenderung memilih pulang ke kampung halaman dibanding berlibur ke Bali.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja mengatakan bahwa Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali yang dilakukan terhadap 100 pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya menunjukkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat masih berada dalam tren positif.

Namun pelaku usaha ritel melihat adanya kecenderungan masyarakat menahan pengeluaran pada Februari sebagai strategi mempersiapkan dana untuk Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang berlangsung pada Maret 2026.

Berdasarkan komponen pembentuknya, terdapat beberapa subsektor yang mengalami penurunan secara bulanan, yaitu:
Peralatan Informasi dan Komunikasi turun 2,8 persen (mtm)
Sandang turun 2,4 persen (mtm)
Suku Cadang dan Aksesori turun 1,7 persen (mtm)
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor turun 1,6 persen (mtm)
Makanan, Minuman dan Tembakau turun 0,2 persen (mtm)

“Penurunan ini juga berkaitan dengan turunnya jumlah wisatawan domestik sebesar 15 persen (mtm) berdasarkan data Angkasa Pura,” jelas Erwin.

Faktor utama penurunan tersebut adalah periode Ramadan dan musim mudik.

Baca Juga :  Era Digitalisasi! Sekda Suyasa Minta Generasi Muda Kuatkan Wawasan Kebangsaan

“Meski terjadi perlambatan akibat faktor musiman, pelaku usaha tetap optimistis terhadap prospek ritel Bali ke depan,” imbuhnya.

Hal ini tercermin dari Laporan Umum Bank Terintegrasi pada Lapangan Usaha (LU) Perdagangan yang menunjukkan pertumbuhan 1,83 persen (yoy) pada Januari 2026, meningkat dibandingkan Desember 2025 sebesar 1,44 persen (yoy).

Optimisme tersebut juga terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah.

IEP April 2026 mencapai 170, meningkat dari IEP Maret 2026 sebesar 126
IEP Juli 2026 tercatat 184, sama dengan IEP Juni 2026

Kedua indikator tersebut berada di zona optimis (IEP > 100). Untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan pada Februari 2026.

Di sisi lain, pemerintah juga memberikan stimulus ekonomi berupa promo tiket kapal laut dan pesawat untuk mendorong mobilitas masyarakat.

Selain itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus mengakselerasi operasi pasar murah menjelang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, terutama untuk menjaga stabilitas harga komoditas strategis.

Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya menjaga stabilitas harga, melindungi daya beli masyarakat, serta memastikan pertumbuhan ekonomi Bali tetap berkelanjutan.(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here