Balinetizen.com, Jember
Setelah menuntaskan masa pengabdian sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan mengakhiri karier dengan jabatan sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember tahun 2025, Drs. Suprihandoko, M.M. mengaku masa pensiun bukan menjadi akhir pengabdian, melainkan awal untuk lebih leluasa berkontribusi kepada masyarakat.
Menurutnya, meski telah purna tugas, dirinya tetap memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pemikiran dan manfaat bagi daerah yang selama puluhan tahun menjadi tempat pengabdian dan sumber penghidupan.
“Walaupun sudah pensiun, pasti masih ada kontribusi pemikiran kepada daerah. Kabupaten Jember ini sudah memberikan banyak hal selama saya mengabdi, sehingga saya tetap berpikir bagaimana ikut memajukan daerah yang kita cintai bersama,” ujarnya.
Suprihandoko mengungkapkan, sejak memasuki masa pensiun, aktivitasnya justru semakin padat. Hampir seluruh waktunya diisi dengan kegiatan sosial, ekonomi, hingga keagamaan.
Di bidang ekonomi, ia mulai mengembangkan sejumlah kegiatan produktif, mulai dari peternakan ayam, pengelolaan lahan sawah dan kebun, hingga mendirikan usaha produksi tahu yang dirancang menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, usaha tersebut tidak hanya bertujuan mencari keuntungan pribadi, tetapi juga membuka peluang kerja dan mendorong perputaran ekonomi warga sekitar.
“Kami ingin ada masyarakat yang memproduksi, ada yang memasarkan. Sistemnya juga berbasis investasi atau saham, sehingga masyarakat yang ikut berinvestasi bisa mendapatkan keuntungan dari usaha tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan, sektor pangan saat ini memiliki prospek besar sehingga perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tidak hanya fokus pada ekonomi, mantan Kepala DLH Jember itu juga memperkuat aktivitas sosial dan spiritual yang sebelumnya terbatas karena kesibukan sebagai pejabat.
Sebagai Ketua Takmir masjid di lingkungan tempat tinggalnya, Suprihandoko kini lebih aktif mengelola kegiatan keagamaan, menjadi khatib, mengisi ceramah, hingga menyusun jadwal pengajian rutin warga.
“Dulu saat masih aktif sebagai pejabat, waktu saya terbatas. Sekarang saya lebih leluasa. Kalau Jumat saya bisa salat di masjid sendiri dan jika diperlukan saya mengisi khutbah,” katanya.
Ia menegaskan, setiap materi dakwah yang disampaikan selalu dipersiapkan dengan mempelajari referensi agar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis.
Selain itu, kepeduliannya terhadap persoalan lingkungan juga belum berhenti. Berbekal pengalaman di bidang lingkungan hidup, Suprihandoko mengaku masih memiliki gagasan terkait pengelolaan sampah di tingkat desa.
Ia berencana mendorong penyusunan Peraturan Desa (Perdes) pengelolaan sampah di Desa Ajung setelah petunjuk teknis dari pemerintah daerah diterbitkan.
“Kami ingin ikut mengambil bagian dalam pengelolaan sampah di Desa Ajung. Tetapi kami menunggu petunjuk teknis terlebih dahulu agar pelaksanaannya selaras dengan kebijakan pemerintah daerah,” ujarnya.
Di sisi lain, Suprihandoko juga dipercaya memimpin Perkumpulan Juang Kencana (Juken) Kabupaten Jember, organisasi yang mewadahi para purna tugas lintas instansi.
Organisasi tersebut, menurutnya, memiliki peran dalam pengembangan sosial kemasyarakatan, spiritual, intelektual, hingga kemitraan antarpensiunan.
Melalui wadah tersebut, para purna tugas diharapkan tetap aktif, produktif, dan terus memberikan kontribusi pemikiran bagi pembangunan daerah menuju Indonesia Emas.
Menutup pernyataannya, Suprihandoko berharap sisa usia yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk terus berdakwah, berbagi, dan memberikan manfaat bagi sesama.
“Harapan saya sederhana, diberi kesehatan dan umur panjang yang barokah agar terus bisa berikhtiar, berdakwah, bersedekah, dan bermanfaat bagi masyarakat. Karena manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya,” pungkasnya.
( Bam)

