Berhenti Men “Dewa” Industri Pariwisata, di Tengah Fenomena Neo Kolonialisme

0
34

 

Balinetizen.com, Denpasar

Berhenti men”dewa” kan industri pariwisata di Bali, karena perjalanannya selama 50 tahun, kerusakan: ekologi, budaya dan ketidakadilan bagi masyarakat lokal, tidak sebanding dengan “gemerincing” dolar yang diterima penduduk lokal penyangga budaya Bali.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan, Kamis 21 Mei 2026.

Dikatakan, kembalikan pariwisata ke Pariwisata Budaya dalam Perda tahun1974, pariwisata adalah “bonus”dari kegiatan budaya, bukan budaya di “jual” ke kemakmuran sedikit orang.

Ditambahksn, koreksi yang sedikit terlambat, ya, tetapi tamsilnya lebih baik terlambat dari tidak berbuat sama sekali.

“Mari masyarakat Bali berhenti “belog ajum” kemudian menjadi korban dari “ganas”nya kapitalisme pariwisata, yang sekarang berubah bentuk menjadi kolonialisme baru,” katanya.

Menurutnya, kalau kolonialisme lama dengan senjata, sekarang datang dengan uang, dan kemudian “menggusur” tanah Bali tanpa ampun,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, kesucian tanah Bali ada dimana, demikian juga Tri Hita Karana ada dimana? Bukan ada di bualan kosong para politisi. Komedi yang tidak lucu.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

Baca Juga :  Seorang Lulusan Arsitek Asal Rusia Diadili karena Miliki Hasis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here