FPRB Bali Libatkan Kampus Hadapi Perubahan Iklim, KKN Tematik Diarahkan untuk Mitigasi Bencana

0
61

Balinetizen.com, Denpasar

Ancaman perubahan iklim (climate change) kini menjadi tantangan nyata yang dihadapi Bali. Menyikapi kondisi tersebut, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Bali menggelar dialog multipihak bertajuk “Pertukaran Pengetahuan dan Penguatan Implementasi Kampus Siaga Bencana Berbasis PRB-API” di Sanur Resort Watu Jimbar, Denpasar, Rabu (15/7/2026).

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Bali, Ida Bagus Gede Widnyana Putra, S.Kom., M.T., mewakili Kepala Pelaksana BPBD Bali. Hadir pula Ketua FPRB Bali I Putu Suta Wijaya, perwakilan LLDIKTI Wilayah VIII, akademisi, dunia usaha, serta insan media.

Dalam sambutannya, Widnyana Putra mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim telah dirasakan secara nyata di Bali. Salah satunya adalah bencana hidrometeorologi ekstrem yang terjadi pada September hingga November 2025.

Peristiwa tersebut menyebabkan banjir besar di sejumlah wilayah Bali dan mengakibatkan 18 korban jiwa, sementara empat korban hingga kini belum ditemukan.

“Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa penanggulangan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat melalui pendekatan multihelix,” ujarnya.

Kampus Didorong Perkuat Riset Kebencanaan
BPBD Bali menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memperkuat upaya mitigasi bencana dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Widnyana Putra menyoroti masih minimnya penelitian lokal mengenai kebencanaan di Bali. Padahal, pulau ini kerap menjadi lokasi berbagai penelitian bencana oleh akademisi mancanegara.
“Perguruan tinggi di Bali harus menjadi ruang utama pengembangan kajian risiko bencana. Kami mengapresiasi kampus-kampus yang telah mengundang BPBD untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa KKN bertema mitigasi kebencanaan,” katanya.

Selain memperkuat riset, BPBD juga mendorong program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik diarahkan pada analisis risiko desa, mitigasi vegetasi, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, hingga edukasi adaptasi perubahan iklim.

Baca Juga :  Kasus Pungli Fast Track: Pertimbangan Penangguhan Penahanan untuk Tersangka HS

Dalam forum tersebut, BPBD Bali menegaskan bahwa dialog tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pertemuan diharapkan menghasilkan komitmen bersama yang dituangkan dalam rencana aksi konkret.
Komitmen tersebut menjadi dasar penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.

Salah satu tindak lanjut yang disepakati dalam forum adalah percepatan Gerakan Bali Menanam 1 Juta Pohon sebagai bagian dari persiapan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) pada Oktober 2026.

Program tersebut merupakan hasil lokakarya Forum Multihelix yang digelar pada Mei 2026.
Melalui KKN Tematik, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di bawah naungan LLDIKTI Wilayah VIII akan diterjunkan ke desa-desa binaan untuk melakukan mitigasi vegetasi dan mendukung upaya pelestarian lingkungan.

Langkah ini diharapkan mampu membantu menekan dampak pemanasan global sekaligus mengurangi risiko longsor dan banjir bandang di berbagai daerah rawan di Bali.

Sementara itu, Ketua FPRB Bali I Putu Suta Wijaya mengatakan forum ini menjadi ruang terbuka bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bertukar pengetahuan, mengidentifikasi berbagai keterbatasan di lapangan, serta melahirkan inovasi dalam pengurangan risiko bencana.

“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mewujudkan Bali yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi ancaman bencana di masa mendatang,” ujarnya.(rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here