Balinetizen.com, Jembrana-
Ketahanan ekonomi tidak bisa hanya mengantungkan atau nengandalkan pada bidang pariwisata. Namun di era new noral ni perhatian harus lebih kepada sektor agraris dalam arti lebih luas.
Hal ini disampaikan politisi dari Partai Demokrat I Nengah Tamba kepada awak media di Warung Jepun, Kamis (17/7).
Jika ketahanan ekonomi hanya mengandalkan dari sisi pariwisata menurutnya sangat fatal. “Kita sebenarnya sudah diuji dan pengalaman telah membuktikan. Perang teluk, bom Bali 1 dan 2, krisis ekonomi 1998 dan sekarang pandemi Covid-19, apa yang terjadi. Kasihan masyarakatnya” tandas mantan anggota DPRD Bali ini.
Empat kali pengalaman itu dan yang sekarang sedang terjadi Covid-19, mudah-mudahan ini (Covid-19) yang terakhir kata Tamba, semestinya sudah membuat pemerintah semakin melek (terbuka). Karena apa, karena hanya sektor agraris saja yang bisa bertahan. Namun anggaran yang digelontorkan untuk sektor ini (agraris) tidak banyak.
Sementara kata Tamba, Jembrana memiliki banyak komoditi andalan malah diakui dunia diantaranya coklat nomor satu di dunia, vanili juga (nomor satu), salak, mangga dan manggis serta yang lain.
“Manggis kita hebat diakui dunia, lalu kenapa hanya menjadi wacana saja. Karena belum dikelola dengan baik. Kita buat sentral pengelolaan buah dengan begitu kita telah membuka lapangan pekerjaan” ungkapnya.
Di Jembrana khususnya petani menurutnya, sangat kasihan. Petani disaat panen yang seharusnya gembira justru menangis. “Tahukah kita selaku pemerintah, tidak tahu. Karena petani jalan sendiri” ungkapnya.
Yang dimasudkan petani jalan sendiri sambungnya, petani dari awal sudah memikirkan biaya bibit, menanam, biaya memanen sampai menjualnya. Ini yang semestinya menjadi pemikiran dan perhatian bersama.
Faktanya memang gabah petani dibeli dengan harga Rp. 4200 per Kg. Harga ini paling mahal karena bisa dibawah itu. Dengan alasan-alasan tertentu gabah tidak dikelola di Jembrana, namun datang sudah menjadi beras dan dijual dengan harga selisih lebih mahal hampir mencapai 150 persen.
“Bisa dibayangkan. Hal-hal seperti ini kedepan tidak boleh terjadi. Petani kita harus lebih diperhatikan. Pemerintah harus berani mengambil aksi nyata dalam mengambil kebijakan anggaran yang lebih besar untuk sektor ini (agraris)” tegasnya.
Bagaimana cara mengatasinya, semestinya bisa dilakukan dengan simultan dari hulu hingga ke hilir dan juga harus ada pendampingan karena Jembrana mempunyai segalanya. Kembalikan fungsi sawah sehingga petani kembali bergairah untuk bertani.
Pemerintah disini juga harus mampu menggairahkan peran petani, baik dari segi permodalan, teknologi maupun sumber daya manusianya. Pemerintah juga berperan sebagai marketing. Karena biasanya saat panen, bagi sebagian petani bingung mau dijual kemana hasil panennya.
Jadi kata Tamba, lakukan secara simultan dari hulu sampai hilir dan transparan. Maksimalkan KUD dengan memperbaiki mekanismenya. Dengan begitu uang akan berputar di Jembrana.
“Disini diperlukan managemen terintergrasi. Kita harus berani berubah untuk kesejahteraan masyarakat” pungkasnya.
Pewarta : Komang Tole
Editor : Mahatma Tantra

