Ilustrasi
Balinetizen.com, Denpasar
Usai bunuh anak, pria di Bali bunuh diri. Kejadian tersebut sangatlah sadis. Seperti diberitakan di salah satu media, Jumat 7 Juli 2023, seorang pria bernama I Made Sudiantara (47) yang tinggal di Jalan Bukit Tunggal No.7 di lingkungan Alangkajeng Gede, Kelurahan Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat membunuh anak kandungnya.
Setelah membunuh anak kandungnya bernama sendiri bernama Putu Rista Pravista Devi (26), ia langsung bunuh diri. Belum diketahui motifnya sampai saat ini.
Menurut Ketua Forum Penyadaran Dharma (FPD) Jro Gde Sudibya, tingginya penyakit gangguan jiwa di Bali, berdasarkan riset kesehatan dasar Kemenkes tahun 2018, Bali berada pada posisi tertinggi 14 orang per 1.000 penduduk, sedangkan rata-rata nasional 7 orang per 1.000 penduduk. Berdasarkan laporan di media arus utama, angka bunuh diri Bali, juga tinggi.
PR besar yang dihadapi oleh para pengambil kebijakan.
Sedangkan kajian dari sudut sastra dan tradisi kehidupan manusia Bali, menurut Jro Sudibya dapat dijelaskan secara sederhana.
Dikatakan, orang Bali dulu, mendalami tentang “sastra” kematian, sehingga berprilaku baik dan bermakna, berdoa dan berbuat untuk tetap sehat dan panjang usia, sehingga jika kematian fisik datang, catatan sejarah hidup dan kehidupan menjadi bermakna bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Ungkapan sederhananya, “yasaang matine, sehingga selama hidup menjadi berguna dan bermakna, diberkati umur panjang, soal kematian adalah hukum besi kehidupan yang harus dilalui”. Simbol upakara pengabenan, sarat makna hidup – mati – dan hidup itu,” katanya.
Dikatakan, masyarakat Bali punya pandangan positif tentang kematian, tidak menjadi “hantu” yang menakutkan. Tetapi dimaknai dengan upaya konstruktif untuk menghasilkan karya hidup yang bermakna.
Sekarang tampaknya, kata Jro Gde Sudibya, masyarakat Bali menjauh dari sastra ini, masa bodo dengan “sastra” kematian, akibatnya, prilakunya menjauh dari “anggah ungguh”, “tilar ring sesana” menjadi “budak” dari SAD RIPU dan SAPTA TIMIRA, yang bisa berakibat kematian fisik menjadi begitu dekat, serta nyaris tidak meninggalkan karma baik.
“Fenomena ini memberikan penggambaran terjadinya REVOLUSI dalam tata pikir dan prilaku masyarakat Bali,” katanya.
Menurutnya, puncak gunung es permasalahan manusia Bali, yang tidak banyak orang hirau, padahal ini merupakan bentuk dari krisis kemanusiaan paripurna, akibat dari kegagalan kepemimpinan: keluarga, formal, informal dan kegagalan pendidikan terutama pembangunan karakter. Dan kegagapan masyarakat Bali dalam merespons perubahan, bentuk nyata dari kegagalan kepemimpinan publik. (Adi Putra)

