Balinetizen.com, Jakarta –
Amerika Serikat dalam Penantian – Nation In A Waiting -, apakah upaya pemakzulan Kongres terhadap Presiden Trump akan berhasil, dengan realitas anggota Kongres dikuasai Partai Republik. Atau dunia masih harus menunggu sampai Pemilu Sela bulan November 2026 yang diperkirakan publik AS akan memberikan “hukuman” terhadap Partai Republik.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan, 31 Maret 2026.
Menurut Jro Gde Sudibya, Amerika Serikat saat ini sedang dilanda “gempa” dashyat demo, yang diikuti oleh sekitar 8 juta warga, di 3,300 titik demo, di 50 negara bagian.
Menurut media, ini demo terbesar semenjak negeri ini didirikan. Protes massif dengan mengusung tema protes NO KINGS, tidak ada raja dan raja-raja di negeri AS yang merupakan kampiun demokrasi.
Dikatakan, kulminasi protes warga sekitar 8 juta, di ribuan titik demo, di seluruh negara bagian AS, dari tindakan Presiden mulai dari: tindakan rasis dengan skala ekstrem, menahan dengan kekerasan PM Venezuela yang sah Maduro dengan alasan utama untuk penguasaan minyak tanpa persetujuan Kongres.
Melakukan serangan secara brutal ke Iran bersama Israel, 28 Februari 2026 dengan membunuh pemimpin tertinggi Iran Khamanei dan hampir semua pimpinan puncaknya negeri itu, di tengah perundingan sedang berlangsung, dan upaya dalam BOP, Badan Perdamaian tentang Palestina sedang dirintis.
Menurut Jro Gde Sudibya, serangan AS ke Iran yang mengabaikan otoritas Kongres yang dijamin Konstitusi.
Selain itu, Trump melakukan perjanjian tarif dengan semua mitra dagang AS merujuk UU Kedaulatan Ekonomi, yang kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS 20 Februari 2026, perlu dicatat satu hari setelah Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Indonesia – AS ditanda-tangani.
Dikatakan, arogansi kekuasaan Presiden Trump yang mengabaikan sistem hukum di negerinya, menafikan sistem hukum internasional dan sekarang mendapat perlawanan keras dari rakyat AS sendiri, membenarkan analisis sejumlah pengamat, serangan terhadap Iran akan berhenti tergantung kepada: Trump, Netanyahu, kehendak rakyat AS sendiri.
Sekarang rakyat di AS melakukan perlawanan terhadap otoritas kekuasaan Presiden Trump.
Jro Gde Sudibya menyebut AS dalam Penantian – Nation In A Waiting -, apakah upaya pemakzulan Kongres terhadap Presiden Trump akan berhasil, dengan realitas anggota Kongres dikuasai Partai Republik. Atau dunia masih harus menunggu sampai Pemilu Sela bulan November 2026 yang diperkirakan publik AS akan memberikan “hukuman” terhadap Partai Republik.
“Tetapi dunia menghitung dengan hari potensi kerusakan ekonomi akibat perang di Timur Tengah yang mengguncang pasokan energi dunia,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

