Ilustrasi
Balinetizen.com, Denpasar
Sacred Destination, Destinasi Wisata Suci, Bagaimana Caranya? Dalam realitas Bali sebagai DTW dunia, dihadapkan kepada sejumlah tantangan serius.
Hal itu dikatakan, Jro Gde Sudibya, pengamat ekonomi pariwisata, kebudayaan dan kecenderungan masa depan, Minggu 25 Mei 2025 di Denpasar Bali.
Dikatakan secara fisik, terjadi ancaman sampah dan kemacetan lalu lintas yang tidak lagi terkendali.
“Alam Bali mengalami ancaman yang serius, kerusakan alam, rasio hutan hanya 18 persen, jauh di bawah standar yang layak, 30 persen dari luas wilayah. Suhu bumi Bali dalam 70 tahun terakhir, 1950 – 2020, 1,9 derajat celsius, lebih tinggi dari Kesepakatan Paris (2016) 1,5 derajat celsius,” kata Jro Gde Sudibya.
Menurut pakar lingkungan, kenaikan suhu di atas 1,6 derajat celsius, manusia mengalami kesulitan dalam melakukan adaptasi.
Sementara itu, lanjut Jro Gde Sudibya kapitalisme pariwisata nyaris sebagai “Dewa” yang “disembah”, merusak alam, tatanan budaya dan prilaku budaya.
“Etika, moral, susila banyak dilanggar, tanpa rasa malu, rasa bersalah dan bahkan “dipertontonkan”.”Keletehan” terjadi di mana-mana, “ketengetan”, “kepingitan” semakin hilang. Taksu dan kesucian semakin sirna,” kata Jro Gde Sudibya.
Di sisi lain, lanjutnya lagi, ada yang berambisi mengembangkan pariwisata spiritual, dengan harapan wisatawan memperoleh: ketenangan, kedamaian, dan bahkan merujuk pemikiran Svami Vivekananda, mencapai SAT, CHIT, ANANDA. Pengetahuan tentang Tuhan, realisasinya dan samudra kebahagiaan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

