Bawa Motor Berpelat DK Keliling Dunia, Kisah IB Ngurah Wijaya Kini Jadi Buku

0
50

Balinetizen.com, Denpasar-

Ida Bagus Ngurah Wijaya atau IB Ngurah Wijaya, tokoh pariwisata senior asal Bali sekaligus petualang sepeda motor, menuangkan perjalanan hidup dan petualangannya dalam dua buku berjudul Menembus Horizon dan World Solo Ride. Kedua buku tersebut akan diluncurkan di Taman Jepun Cafe & Resto, Jumat (11/9/2026) sore. Sebelum peluncuran, IB Ngurah Wijaya bertemu awak media pada Kamis (10/9/2026) di Byrd Sanur, Denpasar.

Sebagai generasi kedua Segara Village Hotel, perjalanan Ngurah Wijaya di dunia hospitality tidak hanya berlangsung di Bali. Sejak muda, ia menempuh pendidikan dan pengalaman di Prancis hingga Swiss sebelum kembali ke Bali untuk melanjutkan usaha keluarga. Pengalamannya kemudian berkembang ke dunia pariwisata yang lebih luas, termasuk keterlibatannya dalam Bali Tourism Board (BTB) yang berdiri pada 2000. Ia juga aktif mendorong promosi Bali, terutama ketika pariwisata menghadapi masa sulit setelah Bom Bali I dan II.

Dalam Menembus Horizon, Ngurah Wijaya merekam perjalanan hidupnya dari masa kecil, pendidikan, pengalaman di luar negeri, dunia perhotelan dan pariwisata, hingga persahabatan dan berbagai peristiwa yang membentuk dirinya. Buku tersebut juga memuat perjalanan keluarga serta potongan sejarah perkembangan Sanur dan pariwisata Bali. Menurut Ngurah Wijaya, buku itu dibuat bukan sekadar sebagai biografi, tetapi diperkuat dengan kesaksian orang-orang yang pernah berinteraksi dan bekerja bersamanya.

“Dari perjalanan saya ini, banyak teman-teman yang berinteraksi dengan saya. Jadi, apa yang saya ceritakan itu ada faktanya, ada saksi-saksinya. Tidak ada yang saya karang. Agak berbeda dengan biografi pada umumnya, ini biografi dengan testimoni,” ujarnya.

Sementara World Solo Ride mengangkat sisi lain kehidupan Ngurah Wijaya sebagai seorang petualang. Setelah memasuki usia lanjut dan merasa masih sehat serta aktif, ia memilih terus bergerak dengan sepeda motor. Perjalanannya dimulai dari menjelajahi berbagai wilayah Indonesia, sebelum berlanjut ke luar negeri. Ia kemudian melintasi sejumlah negara, termasuk Rusia, Mongolia, Kazakhstan, China, Amerika hingga Alaska, Afrika Selatan, Norwegia, dan Australia.

Baca Juga :  Pemkot Denpasar Raih Anugerah Meritokrasi Dari KASN RI

“Dan saya berpikir untuk pergi ke luar negeri. Tadinya saya sendiri, tapi partner saya mau ikut. Ya sudah, ngikutin. Ke luar negeri pertama kali ya ke Rusia, Mongolia, Kazakhstan, ke China,” katanya.

Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat mengalami demam berdarah hingga harus beristirahat hampir dua bulan. Perjalanan di Amerika juga berlangsung sekitar tujuh bulan dan bertepatan dengan pandemi COVID-19. Awalnya perjalanan Amerika dilakukan bersama partner, tetapi setelah menempuh sekitar 500 kilometer, ia kemudian melanjutkan perjalanan seorang diri.

“Badan saya nggak fit untuk bisa melanjutkan. Kalau nggak fit, ya bagaimana bisa lanjutkan perjalanan,” ujarnya.

Dalam World Solo Ride, Ngurah Wijaya juga menyertakan dokumentasi perjalanan berupa ratusan foto. Buku yang semula direncanakan mencapai sekitar 300 halaman kemudian diseleksi agar lebih ringkas dan mudah dibaca. Perjalanan tersebut, menurutnya, bukan hanya tentang sepeda motor dan jarak yang ditempuh, tetapi juga tentang pengalaman bertemu orang dari berbagai budaya serta keberanian menghadapi situasi tak terduga selama berada di negeri asing.

Menariknya, perjalanan itu tetap membawa identitas Bali dan Indonesia. Sepeda motor yang digunakan Ngurah Wijaya tetap menggunakan pelat nomor DK dan dalam perjalanannya ia membawa bendera Merah Putih. Dari pengalaman menjelajah dunia tersebut, ia ingin menunjukkan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti bergerak dan belajar.

Di tengah kisah perjalanan hidupnya, Ngurah Wijaya juga menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan pariwisata Bali. Ia menilai pertumbuhan pariwisata yang terlalu eksesif telah berdampak pada kenyamanan dan kualitas destinasi, mulai dari berkurangnya ruang hijau dan ketersediaan air hingga kemacetan lalu lintas.

“Perkembangannya terlalu eksesif. Jalan-jalan yang hijau sudah hilang, water table kita berkurang, air kita berkurang, trafik kita macet di mana-mana, dan kenyamanan itu berkurang,” katanya.

Baca Juga :  Ratusan Massa Secara Beringas Gerudug BPN Buleleng

Menurutnya, konsep quality tourism tidak cukup hanya mengandalkan hotel, restoran, atau keindahan alam. Kualitas destinasi harus dibangun secara menyeluruh, termasuk pengelolaan, pelayanan, lingkungan, dan kenyamanan wisatawan.

“Destinasi itu produk kita, barang kita. Barang kita harus berkualitas. Jadi kita harus mempunyai kualitas pariwisata yang bagus. Bukan hotelnya saja, bukan restorannya, bukan pemandangannya saja, tapi manajemennya. Kualitas itu harus keseluruhan,” tegasnya.

Ia mencontohkan perubahan pengalaman wisatawan yang hendak berkunjung ke Ubud. Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, wisatawan masih bisa mengunjungi lebih banyak objek dalam satu perjalanan. Kini, kemacetan membuat waktu wisatawan lebih banyak dihabiskan di kendaraan.

“Kalau orang mau pergi ke Ubud dulu, waktu tahun 1990-an atau awal 2000-an, orang ke Ubud itu bisa melihat empat-lima objek wisata. Bisa shopping, bisa ini, bisa itu. Sekarang paling dua atau tiga. Artinya apa? Nilai daripada destinasi kita sudah berkurang. Lebih banyak kita berada di mobil daripada kita menikmati objek wisatanya,” ujarnya.

Bagi Ngurah Wijaya, kekuatan Bali pada akhirnya bukan hanya terletak pada pantai, gunung, danau, maupun panorama alamnya. Budaya, ritual, serta karakter masyarakat Bali yang terbuka dan ramah menjadi bagian penting yang membuat wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga merasakan pengalaman ketika berada di Bali.

Melalui Menembus Horizon dan World Solo Ride, Ngurah Wijaya pun menghadirkan dua sisi perjalanan yang berbeda. Buku pertama merekam perjalanan hidup, keluarga, hospitality, dan kiprahnya dalam pariwisata Bali, sedangkan buku kedua membawa pembaca mengikuti keberaniannya menjelajah dunia dengan sepeda motor. Dua buku tersebut sekaligus menjadi catatan perjalanan seorang tokoh pariwisata Bali yang memilih tetap bergerak setelah memasuki masa pensiun.

Baca Juga :  "Goes To Banjar" Gara - Gara Koneksi Internet, Pelayanan Pengurusan Administrasi Kependudukan Tak Bisa Dilakukan

Radha/BN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here