Oleh I Ketut Puspa Adnyana
Om swastyastu.
“Om Hyang Embang, Shang Hyang Suwung, sujud hamba di kaki padmaMu yang bersinar lembut”.
Orang orang hebat, diberi kelemahan berupa LUPA agar ia sadar. Sang Karna lupa mantra senjatanya, yang berakibat fatal bagi kekalahannya. Hanuman lupa kekuatan dalam keadaan normal agar tidak merusak alam.
Kedua ksatrya agung ini sengaja dibuat lupa agar kekuatan merusaknya terkendali.
Karna murid Rsi Parasurama salah satu ciranjiwi yang perkasa.
Hanuman tamat belajar dari Dewa Surya. Dewa Surya murid terkasih dari Siwa. Karena sangat kasihnya, Dewa Siwa memberi nama Dewa Surya dengan Siwa Raditya. Hanuman sendiri adalah awatara Siwa dan murid Siwaraditya.
Hanuman menguasai 108 tantra, mendapat anugrah dari semua Dewa, karena itu Hanuman tidak terkalahkan, bahkan kematianpun tidak. Seperti Rsi Parasurama, Hanuman juga ciranjiwi.
Saking hebatnya kekuatan Hanuman, ia tidak sadar sudah membuat kekacauan. Pohon yang dinaiki tumbang, gunung yang dilalui runtuh, akibatnya mengganggu pertapaan para Rsi diseputar Mahameru.
Lalu Hanuman dikutuk para Rsi pertapa: “bahwa Hanuman pada masa normal akan lupa memiliki kekuatan. Kekuatan itu akan bangkit bila ada orang lain mengingatkan”.
Begitulah Hanuman seperti orang biasa, tetapi bila diiingatkan oleh orang lain, Hanuman menjadi sangat perkasa.
Berbeda dengan Karna, ia akan lupa kekuatan mantranya ketika ia butuhkan untuk menangani masalah.
Makna apa yang dapat kita petik dari kisah Hanuman dan Karna ini?
Mungkin untuk menjadi cerdas dan bijaksana seseorang butuh LUPA.
Karena dengan situasi lupa itu seseorang dapat fokus berpikir untuk mencari jalan keliar atas masalah.
Masalah tidak akan selesai hanya dengan memikirkannya. Kadangakala dengan melupakannya, masalah selesai dengan sendirinya.

