Oleh : Jro Gde Sudibya
Kerugian akibat bencana luar biasa besar, pemerintah tidak kunjung tiba untuk menetapkan sebagai bencana nasional, sehingga sumber daya dalam negeri dan dukungan internasional untuk mempercepat penanganan menjadi terhalang dan bahkan tersumbat. Konsekuensi logisnya, atas nama kemanusiaan semestinya pemerintah merevisi APBN 2026.
Dana MBG Rp.330 T semestinya dikaji ulang rencana penggunaanya, sebut saja untuk merehabilitasi: infrastruktur, fasilitas layanan publik, sarana prasarana produksi, pasar sehingga kehidupan ekonomi bisa pulih paling tidak di tingkat minimal. Pembangunan kembali sekolah dan sarana dan prasarana pendukungnya menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.
Program sekolah rakyat yang dicanangkan, dana dialihkan ke pemulihan kembali sekolah di Aceh, Sumut dan Sumbar.
Dana pembangunan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih yang diperkirakan puluhan triliun rupiah dan dan dana perbankan untuk modal kerja koperasi ini yang bisa mencapai ratusan triliun rupiah, semestinya untuk sebagian dialihkan untuk mendanai pemulihan kehidupan di tiga provinsi di atas.
Keuntungan BUMN setelah pendirian Danantara tidak lagi dimasukkan ke kas negara sebagai pendapatan bukan pajak sekitar Rp.400 T, tetapi menjadi dana yang dikelola oleh Danantara, sebaiknya dana dikembalikan sebagai pendapatan negara untuk menambah dana anggaran BNPB yang banyak dikurangi, tambahan dana transfer daerah yang rencananya dikurangi sekitar 24 persen setara dengan Rp.180 T.
Diperkirakan mitigasi bencana tahun 2026 memerlukan dana besar, dengan perubahan alokasi dana di atas diharapkan BNPB, pemerintah daerah tidak glagapan dalam merespons bencana di lapangan.
Sejarahwan ternama Yuval Noah Harari dalam bukunya HOMO DEUS menyatakan: respons negara terhadap perang, bencana alam, pandemi akan menentukan kualitas dan kontur peradaban dari negara yang bersangkutan di masa depan. Sudah semestinya pemerintah tidak menganggap enteng (under estimate) terhadap bencana, dampak, besaran kerugian dan implikasinya ke masa depan.
Oleh: Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi, lingkungan dan kecenderungan masa depan.

