Balinetizen.com, Buleleng
Perguruan Tinggi yang mencetak lulusan sarjana masih dipandang sebagai menara gading di tengah masyarakat. Di samping itu kegiatan akademik yang monoton, kurang adaptif dan enggan membangun kolaborasi di era konektivitas dan digitalisasi menjadi ancaman serius. Civitas kampus diharapkan berbenah dan meninggalkan pola lama. Berani dan mau keluar dari zona nyaman menjadi kuncinya.
Demikian pesan yang disampaikan dalam helatan Dharma Duta Week (DDW) yang digelar Jurusan Dharma Duta Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Rabu (18/12/2019) di Gedung Sasana Budaya, Singaraja. DDW sendiri merupakan ajang kreativitas
yang bertajuk pameran pendidikan DDW dikemas dalam berbagi bentuk kegiatan seperti lomba-lomba, kuliah umum kewirausahaan, pagelaran seni, Pameran pendidikan, dialog pendidikan, bedah buku, dan pentas kreasi Unit kegiatan mahasiswa.
“Tantangan ke depan Perguruan Tinggi Hindu sangt berat. Kita harus berani keluar dari zona nyaman. Selama ini Civitas kampus terbuai dengan pragmatis, skeptis, hedonis , “kata Ketua Jurusan Dharma Duta STAHN Mpu Kuturan Singaraja Dr I Made Sedanadalam pembukaan DDW.
Disamping itu, tambah dia era kolaborasi PTN Hindu agar dirancang sedemikian rupa sehingga tujuan pendirian lembaga pendidikan bisa dirasakan seseorang signifikan oleh masyarakat khususnya umat Hindu di Bali. Mahasiswa dan dosen sebgai motor penggerak kampus harus intens membuka ruang dan diri ke masyarakat. Mulai dari kegiatn kreatif, pendidik., penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Sedana menambahkan, diera digitalisasi dan perkembangan teknologi informasi proses pembelajaran dan kreativitas para mahasiswajuga telah berubah. Kampus atau dosen kata dia tak lagi sumber tunggal ilmu pengetahuan. ” Melainkan banyak sumber lain yang bisa diakses oleh mahasiswa. Dosen hanya penunjang dan fasilitator, “katanya.
Lebih jauh kata dia kampus memiliki tanggung jawab moril untuk membangun akses antara mahasiswa dan masyarakat melalui berbagai kegiatan kreatif. Sementra itu Asisten Bidang Administrasi Umum Setda Buleleng Drs. Gede Suyasa M.Pd mengatakan Perguruan tinggin Hindu memiliki tantangan serius. Era digital kata dia mempengaruhi performa kampus agar tetap up to date dengan dinamika dan kebutuhan masyarakat yang dipandang penting dan aktual.
Sehingga kata dia baik mahasiswa dan para dosen harus bisa adaptif, berani keluar dari zona nyaman dan melakukan kegiatan kampus yang tak biasa. “Yang paling penting harus berani keluar kandang. Karena kehidupan kampus sesungguhnya di masyarakat,”ucapnya sembari mengapresiasi kegiatan DDW. Pemkab Buleleng kata dia siap membuka diri untuk melakukan kerjasama (MoU) dengan STAHN Mpu Kuturan Singaraja untuk memajukan masyarakat Buleleng dalam berbagai hal baik dalam bentuk pendidikan, pengabdian dan penelitian. **
Editor : Whraspati Radha

