Balinetizen.com, Denpasar
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq meninjau langsung tiga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Kota Denpasar, yakni TPST Sesetan, Kertalangu, dan Tahura, pada Jumat (17/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Hanif didampingi Gubernur Bali Wayan Koster serta jajaran pemerintah daerah Kota Denpasar.
Hanif mengungkapkan bahwa progres pengolahan sampah di Denpasar menunjukkan perkembangan, namun masih belum optimal. Salah satunya terlihat di TPST Kertalangu yang saat ini baru mampu beroperasi di kisaran kapasitas awal.
“Recovery-nya belum optimal. Kertalangu baru di angka sekitar 100 ton. Alat-alat sudah datang, dan di Sesetan juga dalam proses yang sama. Kami harap tidak perlu menunggu lama,” ujarnya di TPA Suwung.
Ia optimistis, seluruh sistem pengolahan sampah di Denpasar dan Badung dapat berjalan maksimal pada Juli 2026.
“Saya yakin akhir Juli nanti seluruh sampah bisa ditangani dengan baik, khususnya di Bali,” tegasnya.
Namun demikian, Kementerian Lingkungan Hidup tidak akan menunggu kesiapan Denpasar dan Badung saja. Hanif menegaskan bahwa kabupaten lain di Bali juga akan segera didorong untuk mempercepat penanganan sampah.
“Kami sudah mulai memanggil kabupaten lain minggu depan. Jika sampai Agustus belum ada progres, kami akan gunakan kewenangan sesuai undang-undang untuk menghentikan praktik open dumping di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Denpasar Kebut Pengolahan Sampah, Target Kapasitas 500 Ton per Hari
Sementara itu, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menjelaskan bahwa pihaknya terus menggenjot pengolahan sampah, khususnya sampah organik.
Saat ini, pengangkutan sampah organik ke TPA dilakukan secara terbatas, terutama dari desa-desa yang belum memiliki fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).
“Yang sudah diolah di TPS3R tidak dibawa lagi ke TPA, karena sudah menjadi kompos. Yang dikirim ke TPA hanya yang belum tertangani,” jelasnya.
Ia menambahkan, kapasitas pengolahan sampah di Denpasar ditargetkan mencapai 500 ton per hari untuk mengejar target penanganan total.
Selain itu, Pemkot Denpasar juga mendatangkan mesin pengolah sampah dengan kapasitas besar, termasuk teknologi yang mampu mengolah hingga 200 ton per hari. Mesin tersebut akan didampingi operator selama tiga bulan, dan hasil olahannya langsung diambil oleh pihak penyedia.
“Ini akan sangat membantu meringankan beban. Target kami, jika kapasitas 500 ton tercapai, ditambah pengolahan di sumber, maka persoalan sampah bisa ditekan signifikan,” ujarnya.
Namun, ia mengakui total timbulan sampah di Denpasar bisa mencapai sekitar 770 ton per hari, sehingga masih diperlukan penguatan dari berbagai sektor, termasuk rumah tangga, hotel, restoran, dan desa adat.
Jaya Negara juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan sampah, khususnya agar tidak membuang sampah sembarangan.
“Saat ini masih ada masyarakat yang membuang sampah di tempat yang tidak semestinya. Kami mohon kerja samanya, karena ini tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Pemkot Denpasar juga terus memperluas layanan persampahan yang kini telah menjangkau ratusan ribu pelanggan, sembari memperkuat sistem pengolahan berbasis desa.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

