Desa Pakraman sebagai GardaTerdepan dalam Menjaga Kesucian Alam Bali

0
208

 

Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, bermukim di “Kaja Kangin ” Bukit Sinunggal, Desa Pakraman Tajun, Den Bukit Bali Utara.

 

Hari Rabu, 6 Agustus 2025, raina Buda Kliwon Ugu, sasih Karo Icaka 1947.
Lazimnya piodalan ring Pura Bale Agung Taro, yang secara umum lebih dikenal sebagai Pura Gunung Raung, Desa Taro, “ring madyaning Pulau Bali”.
Pura mengenang sejarah perjalanan Rsi Markandya yang menyejarah, meninggalkan jejak sistem keyakinan yang padu, sistem Subak yang melegenda sampai kini, yang menjadi cara hidup “way of life” pada sebagian besar masyarakat Bali.

Warisan organisasi sosial di perdesaan Bali, dari Tani dan kemudian menjadi Banua, sistem sosial yang melekat padanya, “menafasi” sistem kehidupan masyarakat di era Bali Mula. Mengalami transformasi menjadi Desa Pakraman, kurang lebih 1,024 tahun, jika merujuk kedatangan Mpu Kuturan dari Jawa ke Bali, Buda Kliwon Pahang Icka 923, tahun 1001 masehi. Desa Pakraman yang dikembangkan Sang Mpu, berdasarkan izin raja: Gunapriya Dharmapatni – Udayana Warmadewa. Sebut saja reformasi sosial yang dilakukan Sang Mpu, berangkat dari sistem sosial yang ada di masing-masing Banua, dimodifikasi, diwadahi dalam sistem keyakinan Tri Murti: Brahma, Wisnu, Ciwa, “disungsung” di Kahyangan Tiga, didukung oleh sistem sosial Desa Pakraman, yang sampai hari ini mewadahi krama Bali, dalam menjalankan: tradisi, budaya dan agama.

Keberhasilan pengembangan Desa Pakraman yang fondasi spiritual, sosial kultural yang kuat, mampu bertahan lebih dari 1,000 tahun, tidak lepas dari kedatangan Panca Tirtha ke Bali, di seputaran Icaka 922, tahun 1,000: pakulun Mpu Gni Jaya “distanakan” ring Pura Lempuyang Madya. Pakulun Mpu Semeru, “distanakan” ring Meru Tumpang 7 Pedharman semeton warga Pasek ring Besakih. Pakulun Mpu Ghana, “dimulyakan” ring Meru Tumpang 3 Pura Dasar Bhuwana Gelgel. Pakulun Mpu Kuturan, “distanakan” ring Pura Silayukti, Padang Bai, Pura Kentel Gumi, Pura Peninjoan, jejer kemiri pura ring palebahan Pura Pucak Sinunggal. Pajulun Mpu Baradah, “distanakan” ring Pura Mrajan Kanginan Besakih, Pura Tanjung Sari, Padang Bai.

Baca Juga :  Seorang Pria Tewas Gantung Diri Didepan Kantor Lurah Kampung Anyar, Singaraja

Jejak karya dari pakulun Ida Rsi Markandya, pakulun Pancaka Tirtha, memberikan penjelasan dengan sendirinya – self explanation- bagaimana semestinya kesucian Alam Bali dirawat dan dijaga.

Desa Pakraman lebih dari 1,000 tahun adalah ujung tombak untuk merawat dan menjaga kesucian Bali, sudah tentu dengan pasang-surut kesejarahannya.
Dalam perspektif waktu, kemandirian Desa Pakraman untuk merawat dan menjaga kesucian Alam Bali mempersyaratkan;

Pertama, otensitas Desa Pakraman Mandiri harus dijaga, tanpa dalam bahasa sekarang “cawe-cawe”politik yang tidak produktif dan merusak makna.

Kedua, Desa Pakraman mesti terus berbenah, dalam sistem kepemimpinan, manajemen organisasi, pemantapan sistem nilai organisasi, dengan banyak belajar sebut saja kearifan pengelolaan Desa Pakraman di Desa-desa Bali Pegunungan, yang dikenal demokratis, ethos kerja pengabdiannya kuat, untuk tujuan bersama. Kearifan lokal ini mesti ditemukan kembali, istilah ke kiniannya Rediscovery of Balinese’ Wisdom.

Ketiga, dalam perspektif waktu Tri Semaya, Desa Pakraman dan kramanya tidak pernah berhenti belajar, untuk bisa lebih cerdas, punya daya tahan mental (resilensi) merespons dan menyongsong perubahan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here