Balinetizen.com, Denpasar
Sebuah gebrakan baru dalam pelestarian pengetahuan lokal dan teknologi ramah lingkungan lahir dari kolaborasi lintas organisasi. Pratisara Bumi Foundation (PBF), Fab Lab Bali, dan CAST Foundation menyelenggarakan Traditional Technology Innovators Residence & Hackathon, program inovatif yang telah bergulir sejak Desember 2024. Program ini menggandeng Lingkar Temu Kabupaten Lestari dan Women’s Earth Alliance, dalam upaya mengangkat kembali teknologi tradisional sebagai solusi masa kini dan masa depan.
Program ini berhasil menjaring 20 inovator muda dari berbagai penjuru Indonesia—dari Banda Aceh hingga Banjarnegara. Para inovator ini tidak hanya membawa semangat muda, tetapi juga bertindak sebagai duta teknologi tradisional dari daerah masing-masing. Selama empat bulan, mereka menjalani proses residensi, riset lapangan, hingga presentasi inovasi bersama 40 penggerak lokal (local enablers) yang ahli di bidang desain program.
Program ini menempatkan generasi muda usia 17–35 tahun sebagai aktor utama dalam mengembangkan pengetahuan lokal yang aplikatif di daerah asal mereka. Dengan mengangkat filosofi dasar kebutuhan hidup—sandang, pangan, papan, dan sadar—program ini menegaskan bahwa teknologi tradisional bukanlah masa lalu, melainkan harapan masa depan.
“Program ini berawal dari keprihatinan atas ketidakseimbangannya ekosistem bumi. Padahal, masyarakat Indonesia secara turun temurun memiliki warisan pengetahuan lokal dan teknologi tradisional yang selaras dengan alam,” tutur Saniy Amalia Priscilla, Co-Founder Pratisara Bumi Foundation, sela s ela acaraTradisi Temu Teknologi, Minggu, 18 Mei 2025 di Bale Desa Serangan, Denpasar.
Pihaknya mengaku ingin membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap pengetahuan, alat, metode ini agar tetap lestari. “Kami percaya ini adalah kunci untuk menjawab tantangan krisis iklim dan pelestarian kearifan lokal,” jelasnya.
Lokasi Desa Serangan sendiri dipilih karena kekentalannya dengan tradisi Bali sekaligus potensinya sebagai pusat lahirnya inovasi baru. Dikenal sebagai juara III nasional dalam kategori Desa Wisata Perintis 2023, Desa Serangan kini kian bersinar lewat program berbasis teknologi tradisional.
Selain pameran, CAST Foundation bersama Fab Lab Bali membuka Kios Utak-Atik, laboratorium teknologi terbuka bagi warga untuk menjajaki dan menciptakan solusi teknologi modern tanpa meninggalkan akar budaya mereka.
“Teknologi tradisional sangat erat dengan wawasan keilmuan yang menjadi perhatian utama kami, yaitu Culture, Arts, Science, and Technology,” ungkap Wan Zaleha Radzi, Co-Founder CAST Foundation.
“Bagi kami, teknologi tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan benih masa depan—lahir dari kearifan lokal yang hidup dalam harmoni dengan alam,” imbuhnya.
Koalisi Bali Emisi Nol Bersih (ENB) 2045 juga turut mendukung program ini, dengan melibatkan berbagai pihak seperti World Resources Institute (WRI) Indonesia, IESR, dan New Energy Nexus (NEX) Indonesia.
Program residence & hackathon dirancang secara bertahap, dimulai dari pelatihan bagi para penggerak lokal hingga pendampingan inovator di lapangan. Mereka dibekali pengetahuan tentang riset etnografi, pemetaan tantangan lokal, hingga analisis dan desain solusi berbasis Traditional Ecological Knowledge (TEK).
“Pendekatan meaningful design digunakan agar solusi tetap berakar pada konteks budaya dan ekologis setempat,” jelas Tafia Sabila, Lab Expert di Fab Lab Bali yang menjadi mentor utama. “Di tahap hackathon, para inovator dibimbing membuat prototipe, dari low-fi hingga high-fi, menggunakan teknologi fabrikasi digital,” tambahnya.
Dan berikut 10 inovasi teknologi tradisional yang terpilih di tahap final Hackathon:
Abdul Muiz (Mempawah, Kalbar) – Salamun Tujuh Living Heritage: Lab interaktif, perjalanan budaya, workshop kreatif, dan community hub.
Akhmad Rizaldi (Sanggau, Kalteng) – Alat pemecah cangkang buah tengkawang yang mempermudah proses produksi.
Deviani Gustia Reski (Banda Aceh, Aceh) – Portable Solar Dryer untuk pengeringan ikan Eungkot Kayee.
Neno Anderias Salukh (Timor Tengah Selatan, NTT) – Rumah tradisional Ume Kbub Leko dengan ventilasi silang dan pengasapan terkendali.
Ni Komang Ayu Trisna Dewi (Karangasem, Bali) – Bagu Chakra, alat pemintal serat gebang semi otomatis.
Putri Handayani (Banyuwangi, Jatim) – Eduwisata SITTPLBG, pusat informasi dan revitalisasi teknologi pangan lokal Batu Gilisan.
Rani Dwi Andriani (Ponorogo, Jatim) – Rumah pengering ragi tempe dengan sistem efek rumah kaca dan daur ulang daun jati.
Sintia (Musi Banyuasin, Sumsel) – Palet warna alami kain jumputan dari limbah cair gambir.
Saiyidal Muhammad Nor (Kota Waringin Barat, Kalteng) – Perangkap ikan Pengilar berbasis desain kuat dan tahan lama.
Viedela Aricahyani Kodirin (Banjarnegara, Jateng) – Sepeda pemarut singkong berbasis kayuhan dan gir silinder.
Dengan pendekatan menyeluruh dari riset, pengembangan hingga pameran, program ini menjadi jembatan antara kearifan lokal dan teknologi masa kini. Pratisara Bumi Foundation berharap langkah ini menjadi katalis untuk mendorong inovasi berkelanjutan dari desa untuk Indonesia dan dunia.
(Jurnalis : Tri Widiyanti)

