Di Tengah Sepinya Akses, Buku Hadir sebagai Harapan: Cerita Literasi dari Karangasem di BBW Bali 2025

0
215

 

Balinetizen.com, Badung

Di sebuah sudut timur Pulau Bali, tepatnya di Karangasem, anak-anak berkumpul bukan di depan layar gadget, tapi di balik banjar, menunggu satu hal yang tak biasa: buku. Mereka tahu, hari itu mungkin Komang Sukayasa akan datang membawa harapan—dalam bentuk cerita bergambar, bacaan sederhana, hingga pelajaran bahasa Inggris yang bisa membuka pintu masa depan.

Komang Sukayasa bukan tokoh besar di layar kaca, tapi di mata anak-anak Karangasem, ia adalah pahlawan. Sejak 2010, pria yang juga penulis buku anak ini rutin menyusuri desa-desa terpencil, membawakan tas berisi buku-buku bacaan untuk anak-anak yang nyaris tak bersentuhan dengan literasi.\

“Anak-anak di sana tidak punya akses internet. Buku adalah hiburan, pelarian, sekaligus jendela dunia bagi mereka. Mereka menunggu kami datang membawa bacaan, dan antusiasme mereka luar biasa,” ungkap Komang.

Di wilayah seperti Kecamatan Tugu dan Bebandem, literasi bukan sekadar soal bisa membaca. Ini tentang kemampuan bertahan hidup dan membangun mimpi. Komang dan para relawan mengajarkan anak-anak tak hanya membaca, tapi juga berani bermimpi lebih tinggi: sekolah hingga ke jenjang SMA, bahkan perguruan tinggi, dan kembali membangun desa mereka.

Namun, jalan ini bukan tanpa hambatan. Pos baca yang ia bangun sendiri dengan bahan sederhana dari pakis dan seng, roboh dihantam angin bulan lalu. Tapi semangatnya tak runtuh.

“Saya bangun sendiri. Sekarang kami kembali fokus di balik banjar, tempat anak-anak menunggu buku-buku. Mereka tetap semangat, walau tempat kami sederhana,” tuturnya.

Semangat seperti inilah yang ingin disebarluaskan oleh Big Bad Wolf (BBW) Bali 2025. Bukan sekadar bazar buku internasional, BBW kini menjadi ruang kolaborasi antara buku, budaya, dan komunitas. Dengan tema “Ubah Dunia, Satu Buku Setiap Waktu”, BBW menghadirkan lebih dari 1 juta buku baru dengan diskon hingga 90% di South Beach Corridor, Discovery Mall Bali pada 31 Juli–10 Agustus 2025, dan terbuka untuk umum secara gratis.

Baca Juga :  Gelar Musyawarah Kabupaten, Sekda Sudiada Berharap PMI Lebih Dicintai

“Buku adalah jembatan lintas budaya. Kami percaya membaca dapat menyatukan semua latar belakang melalui pengetahuan dan imajinasi,” ujar Andrew Yap, Pendiri BBW Books.

BBW tak hanya menyediakan buku anak bergambar, fiksi populer, hingga pengembangan diri dari berbagai penerbit dunia, tapi juga memberi ruang bagi suara lokal seperti Komang Sukayasa, yang diangkat sebagai Local Hero BBW Bali 2025.

“Buku, budaya, pendidikan, anak, dan Bali adalah yang menyatu dalam diri saya. Di BBW Bali 2025, buku menjadi bagian dari perjalanan hidup anak-anak Bali yang ingin terus belajar dan berkembang tanpa kehilangan akar budayanya,” ucap Komang.

Melalui kolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), BBW Bali 2025 juga menghadirkan berbagai promo menarik seperti tambahan diskon 10% untuk nasabah BCA, serta program hadiah seperti Book Haul Contest dan Top Spender Member.

“BCA mendukung BBW sebagai bagian dari perluasan akses literasi. Di Bali, buku menjadi bagian dari pengalaman wisata dan pendidikan,” ungkap Celya Putri Sunjaya, Senior Officer Pemasaran KFPT BCA Bali.

Saat dunia bergerak cepat dan digitalisasi makin merajalela, di Karangasem buku tetap jadi primadona. Bagi anak-anak yang jarang bersentuhan dengan internet, kehadiran buku fisik bukan nostalgia — tapi kebutuhan nyata.

“Saya ingin anak-anak ini bisa sekolah tinggi, kuliah, dan kembali membangun desanya. Buku hanya awal. Tapi dari situlah pola pikir bisa berubah,” pungkas Komang.

BBW Bali 2025 tak hanya membawa buku murah, tapi juga membawa cahaya dari cerita-cerita kecil yang nyaris tak terdengar—seperti di Karangasem, tempat di mana literasi tak pernah menyerah, meski jalan tak selalu mudah.

(jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here