Dialog Imaginer dengan Soekarno, “Mereka yang Menjual Namaku, Cecunguk dalam Kehidupan Politik Kebangsaan”

0
38

Dialog Imaginer dengan Soekarno dilakukan oleh seorang penulis Jro Gde Sudibya dengan Mantan Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno dengan sejumlah pertanyaan. Diantaranya, tentang kegelisahan anak bangsa hari terhadap keadaan negara Indonesia yang telah dibangun oleh pendiri bangsa ini dengan keringat dan darah. Salah satu pernyataan: “Mereka yang Menjual Namaku, Cecunguk dalam Kehidupan Politik Kebangsaan”. Selamat HUT Kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke-81 tahun 2026. Berikut dialog imajiner ini.

Tanya (T) : Dalam bahasa yang disederhanakan, Bung penganut theosofi Jawa, mengalir darah Bali dari belahan Bali Utara, bagaimana perasaan Bung dalam 81 tahun pasca Indonesia Merdeka?

Jawab (J) : Sudah tentu kecewa, masgul dan juga marah terhadap realitas politik berbangsa dan bernegara hari ini. Alam yang merupakan rangkaian “mutiara mutu manik manikam” rusak parah karena keserakahan penguasa, rakyat terpinggirkan, terjadi apa yang sering Aku ucapkan dalam ungkapan berbahasa Perancis “exploitation d’lome parlome”, penghisapan manusia oleh manusia lainnya. Kehidupan berbangsa yang buruk, sekaligus kemunduran peradaban.

T : Ternyata Bung pemimpin visioner. dalam pertemuan dengan delegasi mahasiswa awal Juli 1957 di Jakarta, Bung mengatakan, “perjuanganku lebih mudah karena melawan bangsa sendiri, perjuangan kalian lebih berat karena harus melawan bangsa sendiri?

J : Jangan banyak memuji, pujian dalam politik kekuasaan selalu memabukkan, yang bisa mengantarkan kekuasaan ke jurang kehancuran. By the way, akar feodalisme di negeri ini begitu dalam, begitu mudah kambuh, walaupun pergantian kekuasaan datang silih berganti. Feodalisme ini yang harus kalian JEBOL, dalam retorika politikku, “Revolusi Belum Selesai”.

T : Muncul fenomena politik yang sebut saja menggelikan, nama Bung dijual sebagai “dagangan” politik, tetapi idealismenya ditinggalkan dalam prilaku politik Machiavellian, menghalalkan semua cara?

Baca Juga :  Sidang Zainal Tayeb, Jaksa Batal Hadirkan Saksi Ahli

J : Mereka Cecunguk dalam kehidupan politik, tidak cerdas dan sangat berbahaya dalam pengembangan politik kebangsaan, dan gagal paham terhadap elan vitalitas perjuanganku.

T : Bung, mengembangkan politik luar negeri kren dan visioner, Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 yang melahirkan Dasa Sila Bandung, memberi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan banyak bangsa di Asia Afrika.

J : Sekali lagi jangan terlalu banyak memuji, karena pujian merupakan “political trap”, jebakan politik yang mematikan. Raison d’etre, alasan keberadaan pemimpin adalah memutuskan dan menciptakan masa depan buat rakyatnya, pemimpin dengan penuh dedikasi dan mengabdi buat rakyatnya. Sebagaimana sering Aku ulasan dalam rangkaian tulisan di saat Aku muda, berusia sekitar 20 – 30 tahun, dengan merujuk Bhagavad Githa yang disadur oleh cendikiawan ternama India Cri Aurobindo.

T : Sekarang muncul fenomena warga “mabuk” agama yang berupa fundamentalisme agama yang mudah “merobek” rasa kebangsaan yang Bung dan kawan-kawan rintis dan perjuangkan.

J : Dalam pidatoku tanggal 1 Juni 1945 di hadapan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia secara gamblang Aku ungkapkan, pengembangan kehidupan beragama harus menghargai kebudayaan nasional, tanpa harus merubah identitas diri menjadi seakan-akan orang asing. Prilaku keblinger itu.

Jro Gde Sudibya, intelektual kebangsaan, pengamat kecenderungan masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here