Forum Pegiat Lingkungan Bali Tanam Mangrove di Tahura Ngurah Rai, Soroti Ancaman Alih Fungsi Lahan

0
58

Balinetizen.com, Badung

Ratusan peserta dari berbagai komunitas yang tergabung dalam Forum Pegiat Lingkungan Bali menggelar aksi penanaman mangrove di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Tanjung Benoa, Badung, dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia, Minggu (26/7).

Kegiatan yang dihadiri Anggota Komisi XII DPR RI I Nyoman Parta ini diawali dengan aksi bersih-bersih pantai sebelum para peserta menanam bibit mangrove di kawasan pesisir.

Pegiat mangrove Bali, Lanang Sudira, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi hutan mangrove di Bali Selatan. Menurutnya, luas kawasan mangrove diduga terus berkurang akibat alih fungsi lahan.
Ia menyoroti sejumlah aktivitas pembangunan yang dinilai berdampak terhadap ekosistem mangrove, mulai dari proses sertifikasi lahan, pembangunan fasilitas industri, hingga kawasan permukiman.

Lanang juga mengaku telah melaporkan dugaan kerusakan mangrove kepada Panitia Khusus (Pansus) Tata Ruang, Air, dan Pantai (TRAP) DPRD Bali. Ia berharap lembaga tersebut menindaklanjuti dugaan pembabatan mangrove yang terjadi di kawasan BTID.

Selain itu, Lanang menjelaskan bahwa beberapa jenis mangrove, seperti Sonneratia alba, membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh besar sehingga kerusakan yang terjadi tidak mudah dipulihkan.

Ia juga mengingatkan bahwa mangrove memiliki nilai penting bagi masyarakat Bali sejak dahulu, bahkan beberapa jenis buah dan daun mangrove pernah dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif.

Sementara itu, Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan, memberikan penjelasan berbeda terkait kondisi kawasan mangrove.
Menurutnya, secara administrasi luas kawasan Tahura masih mengacu pada Surat Keputusan tahun 1993 sekitar 1.300 hektare. Bahkan, berdasarkan pengamatan di lapangan, kawasan mangrove justru mengalami penambahan sekitar 280 hektare secara alami ke arah laut.
Namun, penambahan tersebut belum dapat dimasukkan sebagai kawasan resmi karena masih menunggu penetapan melalui Surat Keputusan pemerintah.

Baca Juga :  Ketua Umum PP IWO Yudhistira, Resmi Umumkan Struktur Organisasi Periode 2023-2028

Ia menegaskan bahwa penyusutan kawasan mangrove di Tahura Ngurah Rai tidak terjadi akibat alih fungsi lahan, melainkan terdapat kerusakan di beberapa lokasi karena faktor alam, terutama terjangan ombak di wilayah Sidakarya.

Menurut Agus, tantangan terbesar pelestarian mangrove saat ini justru berasal dari persoalan sampah yang terbawa aliran sungai menuju kawasan mangrove.

“Yang paling penting sekarang adalah meningkatkan kesadaran masyarakat agar sampah dari hulu tidak sampai ke hilir dan merusak ekosistem mangrove,” ujarnya.

I Nyoman Parta: Merawat Mangrove Berarti Merawat Masa Depan Bali
Anggota Komisi XII DPR RI I Nyoman Parta mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut.
Ia mengaku terkejut karena undangan yang hanya disebarkan melalui media sosial mampu menarik ratusan peserta dari berbagai komunitas.

Menurut Parta, hal itu menunjukkan masyarakat Bali memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan apabila diajak melalui gerakan yang positif.

Ia juga mengajak pemerintah untuk memperkuat upaya konservasi mangrove, memperbaiki kawasan yang rusak, serta meminta para pelaku usaha di kawasan pesisir memiliki langkah mitigasi agar aktivitas bisnis tidak merusak ekosistem mangrove.

“Kepada pemerintah, saya berharap sungguh-sungguh untuk melakukan konservasi mangrove. Mangrove-mangrove yang rusak agar segera diperbaiki, ditanam kembali. Kepada para pengusaha yang ada di seluruh pinggir pantai pantai Bali, karena mangrove ini adalah pohon yang yang yang sangat berjasa bagi kita, namun dia sangat rentan.
Bisnis-bisnis usaha yang ada di pinggir pantai harus memiliki mitigasi. Dari awal sudah memiliki mitigasi, jangan lagi ada mangrove kita yang mati. Karena coba yang ditanam oleh Ronaldo kalau teman-teman lihat, itu sudah 2013 besarnya baru segitu. Yang saya tanam 2021, berarti sudah 2—sudah 5 tahun yang lalu, besarnya baru setinggi ini. Jadi betapa lamanya dia besar.” Paparnya.

Baca Juga :  Merekrut Pejabat Tinggi Pratama, BKPSDM Buleleng Adakan Assessment

Selain itu, Parta menyinggung dampak tumpahan minyak yang sempat terjadi di Bali Selatan. Berdasarkan informasi dari para pegiat mangrove, masih ditemukan residu minyak di dasar kawasan mangrove yang menyebabkan semakin banyak pohon mati.

Karena itu, ia meminta pihak terkait, termasuk Pertamina, segera melakukan langkah pemulihan secara menyeluruh agar kerusakan tidak semakin meluas.

Parta menilai kondisi mangrove di Bali masih menghadapi berbagai ancaman, mulai dari alih fungsi lahan hingga kematian pohon akibat pencemaran. Meski demikian, ia melihat semakin banyak komunitas yang terlibat aktif dalam kegiatan penanaman mangrove sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan di Pulau Dewata.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here