Ilustrasi
Hari ini, Jumat 25 Juli 2025, raina Tilem Kasa, Icaka 1947, momentum refleksi diri dalam “deru campur debunya” kehidupan manusia Bali. Kehidupan yang distimulasi oleh industri pariwisata dalam 50 tahun terakhir. Industri pariwisata dalam perspektif manusia Bali seperti dua sisi dari sebuah mata uang. Memberikan kemanfaatan ekonomi, dengan biaya lingkungan dan sosial kultural yang tidak kalah beratnya.
Untuk memenangkan persaingan kehidupan yang semakin keras, penguatan ethos kerja yang pas menjadi kebutuhan yang mendesak. Ethos kerja yang merupakan titik keseimbangan dalam mengelola “konflik” -trade off-, antara menjaga tradisi dengan kecerdasan dalam merespons perubahan.
Spirit Ethos Kerja GALANG KANGIN pantas untuk disimak, sebagai bahan refleksi. Menyebut beberapa dari spirit ini, dalam tafsir ke kinian. Pertama, GALANG KANGIN, waktu sekitar 4.15 wita, pada saat Bintang Tenggala bersinar di Ufuk Timur, lazimnya berderet 3 bisa tegak lurus, bisa menyamping ke Kanan Bawah, waktu dari Tetua mulai kehidupan. Membersihkan rumah, mrajan, menyiapkan “bekel” untuk ke kebun. Berangkat ke kebun sekitar jam 6 pagi, dengan jalan kaki dengan jarak tempuh 3 – 5 km., dengan suka cita. Dari sastra, kemudian baru diketahui, waktu GALANG KANGIN, adalah waktu Brahma Muhutra, Satvika Times, waktu terbaik untuk memujaTuhan. Kedua, memulai kerja kehidupan pada momen Alam masih terfurifikasi -vibrasi Alam masih murni, sehingga mudah membangun “interseksi” diri dengan Alam Terfurifikasi (baca realitas Tuhan). Ketiga, kerja dilakukan dengan suka cita, penuh kegembiraan, bahasa ke kinian Passion. Keempat, Tetua Bali mengenal ungkapan Uma Duwi. maknanya, kerja pertanian penuh tantangan, ketidakpastian iklim, adanya penyakit tanaman, diperlukan kekuatan mental dan kecerdasan viveka dalam melakoni kehidupan.
Desa, Kala, Patra terus berubah, tetapi spirit Ethos Kerja Manusia Bali, tetap penting dan relevan: Dekat dengan Tuhan, Mencintai Pekerjaan, Punya Daya Tahan Mental (Resilensi) dalam Mengelola Risiko Kehidupan.
Jro Gde Sudibya, pengamat kebudayaan Bali, bermukim di Desa Tajun, “palebahan Kaja Kangin” Bukit Sinunggal, Den Bukit Bali Utara.

