Balinetizen.com, Denpasar-
Pandemi Covid-19 yang sudah mewabah hampir 4 bulan, sampai akhir minggu lalu telah menulari lebih dari 2 juta orang, dengan korban meninggal sekitar 200 ribu orang, di lebih dari 195 negara. Berikut rangkuman wawancara I Gde Sudibya, ekonom, berpengalaman sebagai konsultan manajeman perubahan ( change management ) lebih dari 10 tahun di Denpasar, pengamat kecendrungan masa depan – trend watcher dengan wartawan Metrobali.com I Nyoman Sutiawan.
Tanya : Menurut Anda sejauh mana pengaruh Covid-19 terhadap perekonomian dunia umumnya dan Indonesia pada khususnya?
Jawab : Perekonomian dunia merosot tajam, nyaris mati suri, sebagai akibat dari pembatasan massal orang dan komoditas. Perkiraan IMF bahwa ekonomi dunia tumbuh minus 3 % tahun ini, dan ILO memperkirakan, jika pandemi ini tetap berlangsung sampai dengan akhir Juni, sekitar 500 juta pekerja di seluruh dunia akan menganggur.
Tanya : Jika dikaitkan prilaku sosial, sejauh mana dampaknya terhadap kehidupan umat manusia?
Jawab : Diperkirakan perubahan prilaku secara sosial akan terjadi akibat tekanan ekonomi di atas, di samping pengalaman panjang dan trauma yang dilahirkan oleh pandemi ini. Coba kita lihat selain orang mulai kelihatan aneh, ketika perut mereka lapar, tingkat kejahatan meningkat, dan bagi yang pernah kaya, pasti akan shok dengan sutiasi ini.
Tanya : Kira kira ada perubahan prilaku dan keadaan dunia setelah Covid-19 ini berakhir?
Jawab : Yuval Noah Harari, sejarahwan ternama penulis buku provokatif inspirasional: Sapiens, dalam salah tulisannya di harian Finncial Times dikututip Kompas, ” badai pasti berlalu, manusia mampu bertahan, namun dunia yang akan kita tempati akan sangat berbeda dengan dunia sebelumnya”. Sejarahwan ternama ini, yang telah melakukan riset dan publikasi terhadap pandemi yang dihadapi umat manusia dalam kurun waktu beberapa ribu tahun terakhir. Harari dalam tulisannya mengatakan tingkat efektivitas masyarakat dan negara bangsa dalam menanggulangi pandemi ini, akan menentukan kualitas dan trend masyarakat yang bersangkuta ke depan, pasca pandemi.
Tanya : Setelah pandemi Covid-19 ini, Apakah ada perubahan substansi dalam kehidupan di masyarakat?
Jawab : Tentu ada. Sekarang saja sudah terlihat. Diperkirakan akan terjadi perubahan substansial dalam masyarakat, secara: ekonomi, politik dan sosial kultural pasca pandemi.
Tanya : Apakah termasuk perubahan gaya hidup?
Jawab : Perubahan gaya hidup berkaitan dengan kesehatan, persepsi publik terhadap politik, hal-hal yang berhubungan dengan pengelolaan usaha, persepsi terhadap ekonomi pertanian, proses berkesenian yang berhubungan dengan eksistensi manusia, relasi manusia dengan alam.
Tanya : Apakah perkembangan ekononi semakin sadis atau biasa biasa saja atau malah lebih baik ke depannya?
Jawab : Perekonomian dengan ciri perjudian – casino economy -, keserakahan – greedy economy-, diperkirakan akan mulai ditinggalkan, menuju ke ekonomi yang lebih sederhana, insan-insan manusia lebih bisa mengendalikan diri. Gandhi menyebutnya sebagai: self controlled economy.
Tanya : Apa yang mesti dilakukan manusia pasca Covid-19 ini?
Jawab : Di era perubahan yang akan berlangsung, kita bisa merujuk pemikiran ilmuwan ternama Charles Darwin penemu teori Evolusi. Manusia yang mampu bertahan di tengah gelombang perubahan, bukanlah mereka: yang kuat secara fisik atau paling cerdas secara intelektual, tetapi mereka yang paling sanggup beradaptasi terhadap perubahan. Dalam bahasa Cahrles Darwin: ” It is the onet that is the most adaptable to change”.
Tanya : Apa yang mesti dilakukan elite pemangku kebijakan di tengah situasi saat ini?
Jawab : Kecerdasan merespons perubahan dengan cepat dan sungguh sungguh. Elite harus segera pengambil kebijakan publik, di tengah-tengah risiko kematian yang tinggi akibat pandemi, kemerosotan tajam ekonomi dengan angka pengangguran tinggi, social distrust masyarakat pemilih meninggi, risiko ketidakstabilan sosial, ruang gerak kebijakan fiskal terbatas, pejabat publik dituntut untuk menaikkan: sense of crisisnya, empati sosialnya, melalui kebijakan cerdas bermutu dan kemudian terbukti efektif untuk menanggulangi ” gunung” permasalahan pasca pandemi. Prilaku moral hazard kebijakan semestinya menjadi sejarah masa lalu
Tanya : Bagaimanakah seharusnya dilakukan pelaku usaha, agar mampu bertahan di tengah situasi krisis ekonomi ini?
Jawab :Â Pelaku usaha UMKM di sektor formal dan informal agar lebih cerdas dan responsif membaca peluang bisnis. Menata ulang kembali bisnis, terutama menata ulang cara berpikir, untuk rintisan prilaku baru yang bercirikan:Â upaya keras untuk bangkit kembali, inovasi tanpa henti tentang: produk, teknologi, pemasaran dan cara-cara baru dalam berbisnis.
Tanya : Bagaimana cara masyarakat umum mengantisipasi keadaan bencaba ini?
Jawab : Masyarakat pada umumnya harus tetap siaga dan waspada dengan berbagai kemungkinan bencana. Karena risiko bencana: alam dan non alam datang silih berganti, tidak dapat diprediksikan, protokol penanggulang bencana harus dipelajari dan dihayati, menjadi bagian dari cara hidup, the way if life, ( meniru prilaku kehidupan orang Jepang ).
Tanya : Apakah termasuk prilaku hidup sehat?
Jawab :Â Prilaku hidup sehat, tindakan preventif terhadap kesehatan, sebagaimana adagium: tindakan preventif lebih mudah dan lebih murah dari mengobati, dan sejumlah nilai kearifan social yang dapat dijadikan rujukan dalam mengarungi lautan samudra kehidupan. Dalam masyarakat dengan tradisi maritim, dikenal nilai nilai budaya: berani memutuskan dan menanggung risiko untuk keputusan yang diambil, kemandirian, optimisme menatap kehidupan seperti ungkapan pribahasa masyarakat maritim, ” sekali melempar sauh pantang untuk kembali “, ” berdiri gagah di Buritan, menatap mentari pagi menyingsing”. *
Editor : Mahatma Tantra

