Balinetizen.com, Denpasar
Suasana semangat membara terpancar dari ratusan pemuda yang berkumpul dalam Youth Forum 10 Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2025 di Bali. Dengan tema “Youth in Action: Exposing Tobacco Industry Tactics, Advancing Tobacco Control”, forum ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk bergerak bersama melawan pengaruh destruktif industri rokok terhadap kesehatan dan masa depan bangsa.
Anggota DPRD Bali dari Komisi IV, Putu Diah Pradnya Maharani, yang juga merupakan Putri Remaja Indonesia Intelegensia 2019, hadir dan menyampaikan dukungannya.
“Gerakan ini perlu terus ditradisikan. Saya hadir di tengah teman-teman yang sangat luar biasa, yang punya semangat melahirkan generasi sehat. Merokok itu membunuh, tidak hanya diri sendiri, tapi juga orang lain. Kita ingin menyambut Indonesia Emas 2045, bukan Indonesia Cemas,” tegasnya, usai membuka acara tersebut di Universitas Udayana, Denpasar, Senin 26 Mei 2025.
Ia juga menyoroti perlunya pembaruan regulasi pengendalian tembakau di Bali. “Perda terakhir terkait rokok di Bali itu tahun 2011. Sekarang 2025, sudah seharusnya ada revisi. Apalagi sekarang muncul rokok elektronik, yang jadi celah baru dalam regulasi,” tambahnya.
Komisi IV DPRD Bali, kata dia, akan terus mendorong pembaruan regulasi dan melakukan sosialisasi luas, menggandeng berbagai pihak, termasuk Forum Anak dan instansi pemerintah.
Ketua Youth Network Indonesia, Jowanda Harahap, menyebut forum kali ini diikuti sekitar 200 peserta secara luring dan 300 lebih secara daring dari berbagai komunitas, universitas, hingga organisasi mahasiswa.
“Kami ingin isu tembakau tersebar luas ke seluruh elemen pemuda. Banyak yang belum sadar bahwa industri rokok menyasar anak muda lewat promosi dan beasiswa yang mereka sponsori,” jelas Jowanda.
Kegiatan ini diisi dengan sesi inspirasi dari seniman, atlet, hingga alumni beasiswa LPDP, yang berbagi pengalaman bagaimana mereka bisa sukses tanpa dukungan industri tembakau.
Di akhir kegiatan, peserta dibagi dalam kelompok untuk merumuskan ide dan gagasan kampanye pengendalian tembakau, yang kemudian akan dipublikasikan di media sosial sebagai gerakan viral.
Veronica Tan selaku Wamen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI dan Sukadiono, Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK RI yang hadir secara daring, mengapresiasi forum ini sebagai kontribusi strategis anak muda.
“Kita membutuhkan strategi tepat untuk melindungi kelompok usia di bawah 21 tahun. Data tahun 2023 menunjukkan, 18% anak usia 10–14 tahun dan 56,5% usia 15–19 tahun sudah merokok. Ini memprihatinkan,” ujar Sukadiono.
Ia juga mencatat adanya peningkatan penggunaan rokok elektronik dari 0,6% menjadi 0,30%, yang menunjukkan tren baru konsumsi produk tembakau di kalangan muda.
Sumaryati Aryoso, Ketua Tobacco Control Support Center (TCSC), mengingatkan bahwa rokok tak hanya berdampak kesehatan, tapi juga ekonomi.
“60% perokok di Indonesia berasal dari keluarga miskin. Pengeluaran rumah tangga terbesar kedua setelah kebutuhan pokok adalah membeli rokok. Kalau ingin memerangi kemiskinan, harus juga memerangi rokok,” tegasnya.
Ia juga menyoroti lemahnya implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di berbagai daerah, padahal regulasi sudah jelas. “Iklan rokok masih berseliweran, bahkan di media daring, padahal PP 109/2012 dan revisinya melarang itu,” tambahnya.
Forum ini memperlihatkan bahwa pemuda Indonesia tak tinggal diam. Dengan dukungan DPRD, kementerian, dan organisasi masyarakat, mereka siap melawan taktik industri rokok dan mendorong regulasi yang lebih tegas serta edukasi berkelanjutan.
(jurnalis : Tri Widiyanti)

