Foto: Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar dari PSI Emiliana Sri Wahjuni (tengah) bersama pembicara dalam “workshop Membangun Bisnis dengan Personal Branding” Kamis siang (20/8/2020) di Jimbaran Hub.
Balinetizen.com, Denpasar
Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Emiliana Sri Wahjuni terus berkarya, menunjukkan kinerja nyata di tengah-tengah masyarakat.
Konsep dan program-program pemberdayaan perempuan selalu mewarnai pengabdiannya dan kerja-kerja politik sebagai wakil rakyat yang dikenal kreatif dan selalu “mengakar ke bawah”, dan benar-benar bekerja untuk rakyat.
Kali ini Emiliana Sri Wahjuni menggelar program pemberdayaan bagi para ibu-ibu dalam workshop bertajuk “Membangun Bisnis dengan Personal Branding” Kamis siang (20/8/2020) di Jimbaran Hub, Jimbaran, Kabupaten Badung yang dirangkai juga dengan peringatan HUT ke-75 Republik Indonesia.
Acara yang dikemas dalam bentuk private workshop ini menggandeng pembicara yakni Lidia Lavigne yang merupakan serial entrepreneur, business coach, author dan motivational spekaer.
Dalam kesempatan ini hadir pula James Arthur Nunuhitu, pendeta sekaligus entrepreneur yang memberikan motivasi kepada para ibu-ibu peserta workshop.
Kegiatan ini ditujukan bagi para ibu yang berprofesi sebagai pedagang kecil agar mengubah mindset mereka agar menjadi pebisnis. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun bisnis dengan personal branding melalui media sosial.
“Program pemberdayaan untuk ketahanan pangan sudah, ketahanan ekonomi sudah sekarang saya lanjutkan dengan workshop membangun bisnis dengan personal branding,” kata Emiliana Sri Wahjuni.

Menurut Sekretaris Fraksi NasDem-PSI DPRD Kota Denpasar ini, ibu-ibu yang baru belajar berwirausaha atau membangun bisnis perlu terus didampingi dan diberdayakan agar mereka bisa mandiri dan menginspirasi perempuan atau ibu-ibu lainnya.
Salah satu aspek yang dianggap penting dipahami dan dikuasai adalah personal branding untuk mendukung dan menguatkan pengelolaan bisnis. Sederhananya personal branding adalah proses untuk membentuk citra diri seseorang agar mendapatkan persepsi/penilaian positif pada publik/khalayak umum.
“Sekarang bagaimana pemilik bisnis mampu membangun branding diri di media sosial. Ini penting untuk menunjang produk/jasa bisnisnya agar lebih cepat dikenal, penetrasi ke pasar juga mudah diterima,” kata Anggota DPRD Kota Denpasar Dapil Denpasar Selatan dari PSI ini.
Program pemberdayaan ibu-ibu melalui workshop ini merupakan upaya Emiliana Sri Wahjuni membantu menciptakan ibu-ibu yang cerdas, kreatif, inovatif dan mampu menangkap peluang di tengah pandemi Covid-19.
“Perempuan cerdas lahirkan anak-anak cerdas
Kalau bisa jualan bisa berbisnis dengan baik maka ibu-ibu ini akan ikut menjaga ketahanan ekonomi kota dan pada akhirnya ketahanan ekonomi bangsa,” ujar ibu dari dua orang putri ini.

Kegiatan workshop bagi para ibu-ibu juga berimbas positif kepada pada anak-anak mereka sebab anak-anak berkesempatan bermain di alam terbuka Jungle Play Jimbaran yang berlokasi di seberang lokasi acara workshop. Namun tetap protokol kesehatan pencegahan Covid-19 diterapkan dengan ketat dan disiplin.
“Anak-anak juga bisa bermain, refreshing, sementara ibu-ibunya ditraining agar main cerdas,” tandas Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar yang membidangi kesehatan, pendidikan, pemuda dan olahraga, pemberdayaan perempuan, sosial dan tenaga kerja, kebersihan dan pertamanan, pariwisata dan lain-lain ini.
Lidia Lavigne selaku narasumber dan mentor dalam workshop “Membangun Bisnis dengan Personal Branding” ini menerangkan branding ini ada tiga yaitu product branding, bussiness branding, dan company branding.
Ia lantas membagikan tips-tips praktis dan strategi kepada ibu-ibu peserta workshop tentang membangun personal branding di media sosial seperti di Facebook, Instagram hingga di aplikasi chatting seperti WhatsApp.

Dalam melakukan personal branding untuk menunjang bisnis, harus diperhatikan beberapa hal. Salah satunya pemilik bisnis harus berhati-hati dengan konten yang diunggah di media sosial terkait dengan pribadinya atau kehidupan pribadinya.
“Harus bisa mengesampingkan hal-hal negatif dan masalah pribadi. Sebab ini bisa berdampak untuk produk yang dijual. Semakin bagus personal branding yang kita punya maka orang akan melihat produk kita lebih baik,” kata Lidia.
Dalam hal ini harus dibuka mindset untuk bisa berbisnis bukan sekadar menjadi pedagang. Semua harus bisa dilakukan mulai dari promosi, marketing, advertising yang sudah bisa dilakukan sendiri secara digital/online.
Dengan adanya mindset berbisnis para pedagang bisa berpikir untuk bagaimana agar dagangan mereka bisa menjangkau pasar luas. “Dengan adanya branding kita bisa meningkatkan penjualan produk kita agar berkelanjutan,” ujarnya.
Lidia juga mengajarkan ketika berbisnis tidak hanya memfokuskan ke dirinya sendiri namun mereka bisa melakukan proses promosi, mulai dari pembelian bahan baku, proses pembuatannya hingga pemasarannya. Inilah yang namanya product branding.
Kemudian juga harus diperkuat dengan melakukan branding terhadap perusahaan yang menaungi bisnis atau company branding.
“Jadi kita harus mampu menciptakan awareness dan citra positif kepada publik baik terhadap diri kita sendiri selaku pemilik bisnis, terhadap produk kita hingga perusahaan kita,” tandas Lidia. (dan)

