Jember Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan Hadapi Kemarau Ekstrem 2026
JEMBER – Pemerintah Kabupaten Jember secara resmi menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan dalam menghadapi musim kemarau tahun 2026. Kebijakan ini diambil menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengindikasikan potensi kemarau ekstrem dengan puncak diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember, Edy Budi Susilo, usai memimpin Apel Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional di PPG Sidomulyo, Kecamatan Silo, Minggu (26/4/2026) siang.
Edy menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional secara serentak di seluruh Indonesia. Peringatan ini ditandai dengan pembunyian sirine, lonceng, dan kentongan pada pukul 10.00 sebagai simbol kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
“Mulai akhir April hingga puncaknya di bulan Agustus, diprediksi akan terjadi bencana kekeringan yang cukup panjang dan ekstrem. Oleh karena itu, seluruh komponen di Kabupaten Jember sudah menyatakan siaga,” ujar Edy.
Selain fokus pada ketersediaan air bersih, BPBD Jember juga mewaspadai ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Untuk itu, koordinasi lintas sektor terus diperkuat, melibatkan Perhutani, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Dinas Kehutanan Jawa Timur, jajaran Forkopimda, hingga relawan dan stakeholder di tingkat kecamatan dan desa.
Edy mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di kawasan lereng gunung dan perbatasan hutan, agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas yang dapat merusak lingkungan.
Sebagai upaya konkret, BPBD telah menyiapkan sejumlah posko untuk memitigasi dampak kekeringan, termasuk distribusi air bersih bagi wilayah terdampak. Di samping itu, masyarakat juga diajak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau panjang.
“Segala ikhtiar telah kita lakukan melalui simulasi dan koordinasi lintas sektor. Namun, kami juga memohon doa dari seluruh masyarakat agar Kabupaten Jember dijauhkan dari segala marabahaya dan bencana kekeringan tahun ini,” pungkasnya.
( Bam)
Balinetizen.com, Jember –
Pemerintah Kabupaten Jember secara resmi menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan dalam menghadapi musim kemarau tahun 2026. Kebijakan ini diambil menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengindikasikan potensi kemarau ekstrem dengan puncak diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember, Edy Budi Susilo, usai memimpin Apel Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional di PPG Sidomulyo, Kecamatan Silo, Minggu (26/4/2026) siang.
Edy menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional secara serentak di seluruh Indonesia. Peringatan ini ditandai dengan pembunyian sirine, lonceng, dan kentongan pada pukul 10.00 sebagai simbol kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
“Mulai akhir April hingga puncaknya di bulan Agustus, diprediksi akan terjadi bencana kekeringan yang cukup panjang dan ekstrem. Oleh karena itu, seluruh komponen di Kabupaten Jember sudah menyatakan siaga,” ujar Edy.
Selain fokus pada ketersediaan air bersih, BPBD Jember juga mewaspadai ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Untuk itu, koordinasi lintas sektor terus diperkuat, melibatkan Perhutani, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Dinas Kehutanan Jawa Timur, jajaran Forkopimda, hingga relawan dan stakeholder di tingkat kecamatan dan desa.
Edy mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di kawasan lereng gunung dan perbatasan hutan, agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas yang dapat merusak lingkungan.
Sebagai upaya konkret, BPBD telah menyiapkan sejumlah posko untuk memitigasi dampak kekeringan, termasuk distribusi air bersih bagi wilayah terdampak. Di samping itu, masyarakat juga diajak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau panjang.
“Segala ikhtiar telah kita lakukan melalui simulasi dan koordinasi lintas sektor. Namun, kami juga memohon doa dari seluruh masyarakat agar Kabupaten Jember dijauhkan dari segala marabahaya dan bencana kekeringan tahun ini,” pungkasnya.