Balinetizen.com, Denpasar
Jenazah Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh di tebing Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, pada 14 Juni 2025 lalu, rencananya akan dipulangkan ke negara asalnya pada Minggu (29/6/2025).
Informasi ini disampaikan oleh Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy, Sabtu (28/6/2025).
Menurut Ariasandy, jenazah Juliana Marins telah diserahkan secara resmi kepada pihak keluarga dan perwakilan konsulat pada Jumat malam (27/6). Meski demikian, kepastian jadwal penerbangan jenazah dari Bali ke Brasil masih menunggu konfirmasi maskapai penerbangan.

“Dari Bid Dokkes Polda Bali, semalam sudah diserahkan kepada pihak keluarga. Rencana besok (Minggu) diterbangkan ke negara asal. Kita belum tahu waktunya karena masih menunggu jadwal penerbangan,” jelasnya,” Sabtu (28/6/2025).
Ia juga menambahkan bahwa semula jenazah direncanakan dipulangkan hari ini, Sabtu (28/6), namun tertunda karena tidak ada penerbangan yang tersedia.
“Rencananya hari ini dipulangkan, tapi tidak bisa karena tidak ada penerbangan. Jadi kemungkinan besok dan akan diantar menggunakan ambulans dari Polda Bali,” imbuh Ariasandy.
Pihak RSUD Bali Mandara membenarkan bahwa proses serah terima dokumen jenazah kepada keluarga dan pihak konsulat telah dilakukan. Pertemuan dilakukan pada Jumat malam (27/6) sekitar pukul 21.00 WITA.
“Pihak kepolisian dan pihak RS, dalam hal ini diwakili dokter forensik, telah bertemu dengan keluarga untuk serah terima dokumen dan jenazah,” ungkap perwakilan rumah sakit yang enggan disebutkan namanya.
Sebelumnya, jenazah Juliana Marins menjalani proses otopsi di RSUD Bali Mandara pada Kamis (26/6/2025). Dokter forensik, dr. Ida Bagus Putu Alit, Sp.FM (K), DFM, menjelaskan bahwa penyebab kematian adalah kekerasan tumpul yang menyebabkan patah tulang di beberapa bagian tubuh serta kerusakan organ dalam yang memicu perdarahan hebat.
“Kematian disebabkan oleh kekerasan tumpul. Banyak ditemukan luka lecet geser di punggung, anggota gerak atas dan bawah, serta kepala. Yang paling parah di area dada bagian belakang yang merusak sistem pernapasan,” ujar dr. Alit, didampingi Direktur RS Bali Mandara, dr. I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya, M.Kes, Jumat (27/6/2025).
Dari pemeriksaan, ditemukan banyak patah tulang, terutama pada dada bagian belakang, tulang punggung, dan paha. Cedera-cedera tersebut menimbulkan kerusakan pada organ-organ vital korban dan mengakibatkan perdarahan internal masif.
(Jurnalis ; Tri Widiyanti)

