Tri Sida, Ancaman terhadap Tri Hita Karana, Belajar dari “Penjarahan” di Raja Ampat

0
207

 

Tulisan sejarahwan JJ Rizal di Majalah Tempo dengan tema: Historisida Pulau Sejarah, begitu menghentak dan menggugah, tentang fenomena terjadinya sebut saja Tri Sida yang menimpa gugusan pulau kecil di Raja Ampat.

Di mana Raja Ampat punya relasi sejarah dengan gugusan pulau kecil di Halmahera, yang meninggalkan sejarah penting tentang kekuasaan di Tidore, kekuasaan untuk melawan dominasi VOC yang memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Menurut sejarahwan ini, gugusan pulau-pulau kecil ini, dihadapkan ke persoalan fundamental serius yang berupa: ekosida, proses penghancuran alam, akibat keserakahan penambangan Nikel.

Pada waktu bersamaan dihadapkan pada pada historisida, proses penghilangan sejarah, serta kultursida, proses penghilangan nilai-nilai budaya.

Menurut sejarahwan ini, ekosida, historisida, kultursida, merupakan bentuk penghianatan terhadap wawasan kebangsaan. Dan sekaligus merupakan hambatan dalam menjalankan idealisme besar, pengembangan Indonesia sebagai satu kesatuan kultural yang beragam dan bhineka.

Apa yang sedang berlangsung di Raja Ampat, bisa saja menimpa Bali dalam bentuknya yang lain, dimana Tri Hita Karana yang menjadi rujukan nilai kehidupan, tergerus dan terancam oleh TRISIDA: Ekosida, Historisida dan Kultursida yang sekarang menimpa Raja Ampat.

Ekosida, realitasnya kualitas alam Bali mengalami kemerosotan dan kerusakan di sana-sini, akibat dari kapitalisme pariwisata yang “lapar” tanah, pola kepemimpinan yang tidak berempati pada program penyelamatan Bali dalam perspektif: Alam, Manusia dan Kebudayaan.

Historida, upaya penghilangan sejarah. Menyebut satu contoh upaya pemaksaan untuk penerapan ekonomi syariah dan produk halal yang jelas bertentangan dengan keyakinan dan sejarah masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu.

Kultursida, penggerusan dan penghancuran nilai-nilai budaya, melalui: pola hidup materialistik, hedonistik, individualistik, “serbuan” keyakinan trans nasional yang terus menggerus nilai lokal kearifan kultural Bali.

Baca Juga :  Cok Ace Serukan Perdamaian Di Acara Harkitnas PPMKI Bali

Bali semestinya belajar dari kasus derita yang menimpa Raja Ampat, “jengah” untuk bangkit melawan, melalui kerja-kerja “metaksu”, dan para pemimpinnya menjadi sadar “jagra” terhadap risiko yang sedang menghadang.

Oleh : Jro Gde Sudibya, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali 1999 – 2004, pengamat kecenderungan masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here