oleh Ngurah Karyadi
Di tahun 2014, penulis menuliskan: Petruk Dadi Presiden. Petruk, yang punakawan adalah kasus “kecelakaan”, dimana bius kekuasaan bekerja merubah nurani asasi dan tampilan kodrati (archetype) seseorang menjadi bentuk-bentuk yang tak bisa dikenali lagi. Petruk yang sepanjang hidupnya menjalani kehidupan sebagai abdi elite kekuasaan. Lalu tanpa sengaja terbawa ke dalam satu momen saat perebutan Jimat/ Jamus Kalimasodo –yang dalam narasi lakon Petruk Dadi Ratu, yang berposisi sebagai sumber kekuatan ‘metafisika’ terkait dalam dinamika kekuasaan kegeri Nusantara, yang kini disebut: Konoha.
Dalam konteks masa kini, semua orang bisa menempa diri/belajar ilmu negara. Bila berhasil menempa diri/ahli menjadi negarawan, dan berkontestasi menjadi penguasa/raja. Dalam konteks masa kini, termasuk di Indonesia tentunya disebut: Presiden. Bekal utama terbentuknya ke-negara-wan-an seseorang adalah integritas yang berkualitas prima, dan tidak mudah tergoyahkan bius kekuasaan, atau biasa disebut: Ma-lima, yakni: madat, madon, main, mabuk, dan maling.
Kembali ke lakon, yang merupakan adaptasi atas kreasi Sultan Hamengku Buwono VII –penguasa Keraton Yogya di akhir abad ke 19 – yang sarat makna tentang kekuasaan negara masa kerajaan/monarkhi (Jawa), namun juga menampilkan pentingnya aspek negara, ke-negara-an, dan ke-negara-wan-an, yang masih bisa berlaku kini, dan mungkin akan melampaui batas zaman.
Menurut lakon itu, suatu ketika dengan menyamar sebagai Raden Gatotkaca, seorang puteri bernama Dewi Mustakaweni, yang juga adalah panglima perang Kerajaan Manikmantaka, berhasil mencuri Jamus Kalimasodo -pusaka Kerajaan Amarta. Puteri dari seorang raja raksasa itu –dengan berwujud bagaikan manusia dan cantik– bisa mengelabui Dewi Drupadi. Meskipun ia terpergok oleh Dewi Srikandi, Mustakaweni tetap bisa menguasai pusaka curian itu dan melarikannya.
Dalam kisahnya, Petruk mengalami momen “kecelakaan sejarah” (historical by accident) dan mendapat anugrah Jimat tersebut.
Mengikuti versi tersebut, dan untuk memperoleh kembali pusaka itu, Prabu Kresna menugaskan salah seorang putera Arjuna, yang bernama Abimayu dengan imbalan janji diakui keabsahannya sebagai anak penengah Pandawa itu. Menjelang ibukota Manikmantaka, Abimayu, yang didampingi Petruk bertemu Dewi Mustakaweni dan mengetahui bahwa puteri inilah pencuri Jamus Kalimasodo. Sempat saling memperdaya, sang puteri akhirnya kalah tanding dan pusaka itu bisa direbut kembali. Namun, Abimayu dan Dewi Mustakaweni ternyata saling jatuh cinta. Karena akan melamar, Abimayu menitipkan Jamus Kalimasodo kepada Petruk untuk dibawa kembali ke Amarta.
Namun malang, saat Petruk bertemu Adipati Karna di sebuah hutan, terjadi petaka. Karna menusuk tewas Petruk dengan keris pusakanya dan merampas Jamus Kalimasodo. Tapi ayah kandung Petruk, Prabu Suwala, yang mengetahui peristiwa itu, berhasil mengelabui Karna dengan menyamar sebagai Duryudana –junjungan Karna di Kerajaan Hastina– dan merebut kembali Jamus Kalimasodo. Suwala kemudian menghidupkan kembali Petruk, yang juga anak asuh Semar dalam dunia wayang. Semar menyuruh letakkan pusaka itu di ikat kepala/udeng Petruk. Tetapi begitu pusaka diletakkan di iket kepala Petruk, ia berubah menjadi sakti dan tak mempan senjata apapun. Ketika kaum Kurawa dan Adipati Karna berusaha merebut Jamus Kalimasodo, dan semua berhasil dikalahkan Petruk. Memperoleh kesaktian berkat Jamus Kalimasodo, Petruk tergoda memanfaatkan kekuasaan dan penaklukan wilayah, mulai dari walikota, gubernur, dan menjadikan dirinya sebagai: Presiden. Seorang penguasa dengan segala tingkah laku kekuasaan: #SudahTapiBelum, vice versa, sehingga dianggap Prabu Kresna sebagai perilaku onar, dan bertentangan dengan akal sehat, serta melawan konstitusi: usulan 3 periode, dan/ atau menjadikan anaknya, Fufufafa, yang tukang Martabak menjadi Wapres.
Melalui rembugan Prabu Kresna dan Semar, diputuskan mengakhiri keonaran kekuasaan yang dilakukan Petruk yang telah menjadi Prabu SudahTapiBelum alias Prabu Kantong Siluman. Semar dan anak-anaknya mendapat tugas untuk menundukkan Petruk. Ada beberapa versi. Salah satu versi menyebutkan bahwa Semar dan anak-anaknya menyusup ke istana Prabu Kantong Siluman, saat sang prabu tidur dengan tetap mengenakan mahkotanya. Semar memukul kepala Petruk sehingga Mahkotanya terlempar. Jamus Kalimasodo yang disembunyikan dalam mahkota ikut terlempar, dan bersamaan dengan itu kesaktian Petruk pun terhapus dari dirinya. Lalu Petruk kembali menjadi seperti sediakala, dan hendak kembali ke kampung halaman, namun kini terhalang pasukan: GajahMabukKuasa, dengan dipimpin anaknya, Sang Pisang.
Memang di hadapan Prabu Kresna ia menghiba mohon ampun, namun dalam kenyataan: Siap bertempur sampai titik darah penghabisan, seperti diteriakkan Kepala BayangPerkara. Memang, dalam buku Petruk Dadi Ratu (Dr Suwardi Endraswasra, MH, 2014) digambarkan Petruk menyebutkan alasan perbuatannya. “Ampun sinuhun, hamba hanya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi raja. Masa dari dulu hamba ini hanya menjadi wong cilik selalu.” Sekali waktu, menjadi wong licik, mungkin begitu sambungan dalam hatinya.
Prabu Kresna pun menjawab, “Petruk, engkau tak usah risau menjadi orang kecil. Dalam negara yang adil dan makmur siapa pun pasti dapat hidup layak.” Wong cilik tidak bisa menjadi raja/berkuasa? “Ketahuilah, menjadi raja adalah tugas negara, negarawan, dan ke-negara-wan-an,” begitu kata Kresna.
Pandangan Prabu Kresna bisa dibandingkan uraian tentang syarat wahyu kepemimpinan yang disampaikan Kyai Ageng kepada Joko Tingkir, dalam Babad Tanah Jawa. “Kamu akan menjadi tiang utama pulau Jawa.. Akan menjadi orang besar. Walau begitu jangan tinggi hati, tetap bersikap ramah terhadap sesama. Lebih baik mengalah, daripada terjadi pertikaian. Janganlah berbuat jahat dengan sembunyi-sembunyi. Jalan menuju ke tangga derajat dan ilmu, hanyalah melalui sikap rendah hati. Bila kau berani mengalah, akhirnya kau akan menang.” Pesan bijak, yang kini dimaknai sebaliknya, sehingga perlu: Revolusi!!!
Dalam konteks masa kini, semua orang bisa menempa diri belajar ilmu negara untuk jadi negarawan. Bila berhasil menempa diri sebagai negarawan, silahkan menjadi raja/penguasa, yang pada masa sekarang –termasuk di Indonesia tentunya: Menjadi Presiden. Bekal utama terbentuknya kenegarawanan seorang tokoh adalah integritas yang berkualitas prima dan tak mudah tergoyahkan bius kekuasaan.
Kenegarawanan adalah Jamus Kalimasodo masa modern. Tanpa itu, suatu kepresidenan layak untuk lepas, berdasar kehendak rakyat dengan bekal akal sehat saat mengayunkan gada demokrasi melalui pemilihan umum (pemilu) yang Luber dan Jurdil. Bukan meminjam tangan Paman Usman, tipu daya dan gelontoran Bansos, lengkap dengan prilaku nepotisme/ AMPI-nya.

