Kolaborasi Fintech dan Perbankan, UMKM Bali Didorong Lebih Mudah Akses Kredit

0
280

Balinetizen.com, Badung 

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) bersama PT Smartec Teknologi Indonesia (Bantusaku) menggelar National Forum on Embedded Financing dengan tema “Collaboration Between Fintech Lending, BPR, and Commercial Banks” di Nusa Dua, Badung, Bali, Senin (25/8/2025).

Forum ini mempertemukan regulator, penyelenggara fintech lending atau Pinjaman Daring (Pindar), Bank Perekonomian Rakyat (BPR), bank umum, pelaku ekosistem keuangan, hingga UMKM dalam sebuah ruang diskusi strategis.

Di era perkembangan teknologi finansial, sinergi antara Pindar, BPR, dan perbankan umum diyakini mampu memperluas akses pembiayaan nasional. Fintech lending menghadirkan inovasi teknologi dan kelincahan operasional, BPR memiliki kedekatan dengan masyarakat lokal dan UMKM, sementara bank umum menawarkan kapasitas pendanaan besar serta stabilitas sistem keuangan.

“Embedded financing merupakan terobosan yang bisa menjembatani kesenjangan akses pembiayaan di Indonesia. Dengan menggabungkan kekuatan fintech, BPR, dan perbankan, kita tidak hanya menciptakan inovasi, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi UMKM dan masyarakat yang belum terlayani secara optimal,” ujar Ketua Umum AFPI, Entjik S. Djafar.

Entjik juga menekankan pentingnya kolaborasi untuk memperluas pembiayaan UMKM di Bali. “UMKM di Bali ini potensinya sangat besar dan terbuka. Tujuan kami adalah membantu BPR merambah masyarakat yang belum terlayani oleh bank, terutama segmen ultra mikro. Selama ini kendalanya ada di data dan akses perbankan, sehingga fintech hadir dengan persyaratan lebih fleksibel, misalnya cukup KTP saja untuk mengakses pembiayaan,” tambahnya.

Direktur Utama Bantusaku, Arnoldyth Rodes Medo, berbagi pengalaman perusahaan dalam membangun jalur distribusi kredit melalui embedded financing.

“Integrasi cerdas dengan ekosistem pihak ketiga memungkinkan terciptanya akses finansial yang lebih luas. Melalui desain API, otomasi proses, dan pengalaman pengguna yang mulus, kami mampu menghadirkan kemitraan yang lebih efektif dengan BPR. Dari proses onboarding hingga penilaian risiko, tantangan tetap ada, namun dengan pendekatan berbasis data kami dapat menjangkau segmen yang sebelumnya tidak terlayani. Tata kelola yang baik dalam model white-label maupun co-lending juga menjadi fondasi penting dalam memperluas dampak positif embedded financing,” ujar Arnoldyth.

Baca Juga :  Dekranasda Buleleng Dorong Perajin Endek Tingkatkan Produksi

Founder EasyBank, Rafif Rizqulloh, menyoroti alasan Bali menjadi pasar strategis dalam pembiayaan mikro.

“Bali masih menjadi pasar potensial untuk pembiayaan mikro. BPR memiliki basis pasar mikro, namun belum dipersenjatai dengan teknologi yang mampu mengakomodir kecepatan dan volume. Dengan kolaborasi bersama fintech, kita bisa menciptakan data hybrid sebagai alternatif kredit scoring sehingga BPR lebih kuat dan stabil dalam menjangkau segmen ultra mikro,” ungkap Rafif.

Forum ini juga membahas kerangka regulasi dan sandbox yang tengah dikembangkan di Indonesia. Melalui studi kasus, inisiatif pilot project, hingga diskusi panel, forum ini berupaya melahirkan rekomendasi aplikatif yang dapat menjembatani kebijakan dan praktik industri.

Dengan menghadirkan sekitar 100 peserta dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyelenggara fintech lending, BPR, bank umum, pelaku UMKM, mahasiswa, hingga ekosistem digital, forum ini diharapkan menghasilkan pemetaan model kolaborasi yang efektif sekaligus mendukung penerapan embedded financing yang aman, terukur, dan berkelanjutan.

 

(jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here