“Konflik Memanas di Jember Selatan, Warga dan Elemen Sipil Kompak Desak PT Imasco Ditutup”

0
70

Ilustrasi

Balinetizen.com, Jember

 

Kesabaran warga Jember Selatan tampaknya sudah habis masa berlakunya. Setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan kontroversi operasional PT Imasco, kini suara warga tak lagi berupa keluhan lirih—melainkan ledakan terbuka yang siap mengguncang. Dalam satu komando bertajuk Jember Selatan Bersatu (JSB), perlawanan rakyat berubah menjadi ultimatum keras: tutup PT Imasco, atau bersiap menghadapi gelombang aksi tanpa kompromi.

Tak ada lagi ruang abu-abu. Fakta di lapangan yang disaksikan langsung pada 17 April 2026 oleh Ketua MAKI Jawa Timur dan elemen Laskar Jahanam Jember mempertegas satu hal: apa yang selama ini dikeluhkan warga bukan isapan jempol. Dugaan dampak lingkungan, gangguan sosial, hingga janji perusahaan yang tak kunjung terealisasi menjadi bahan bakar kemarahan yang kini tak bisa lagi dipadamkan dengan narasi normatif.

Sehari setelahnya, 18 April 2026, 12 desa menyatukan barisan. Bukan sekadar forum warga, melainkan konsolidasi kekuatan rakyat yang siap bergerak terstruktur, terukur, dan—yang paling penting—tak lagi bisa diabaikan. Nama Jember Selatan Bersatu kini bukan simbol, tapi sinyal bahaya bagi pihak-pihak yang selama ini memilih diam.

Puncaknya akan terjadi pada Minggu, 26 April 2026 di Lapangan Desa Kasiyan Timur (Lapangan Kapuran). Ribuan warga dipastikan hadir. Namun ini bukan sekadar acara kumpul-kumpul atau seremoni kosong. Ini adalah panggung perlawanan. Deklarasi terbuka bahwa rakyat tidak lagi percaya pada janji, dan tidak lagi takut pada tekanan.

Aksi Demo Akbar kini bukan lagi kemungkinan—melainkan keniscayaan. Seluruh perangkat aksi tengah disiapkan secara sistematis. Dari struktur organisasi hingga satuan tugas, semua dirancang untuk satu tujuan: menekan sampai PT Imasco benar-benar berhenti beroperasi.

MAKI Jawa Timur dan Laskar Jahanam Jember bahkan sudah mengambil langkah lebih jauh. Jalur nasional mulai digedor. Komunikasi dengan Komisi XII DPR RI hingga Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dibuka. Tujuannya jelas—membawa persoalan ini keluar dari “peti senyap” daerah ke meja nasional, agar publik tahu apa yang sebenarnya terjadi di Jember Selatan.

Baca Juga :  Presiden Tekankan Pentingnya Pengawasan Penggunaan Anggaran agar Produktif

Tak berhenti di situ, tekanan juga diarahkan ke pusat kekuasaan. Surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto tengah disiapkan. Pesannya sederhana tapi keras: negara tidak boleh kalah oleh kepentingan korporasi jika rakyatnya sendiri merasa dirugikan.

Dorongan audit dan evaluasi perizinan PT Imasco juga menguat. Komnas HAM RI hingga kementerian terkait mulai dilibatkan. Pertanyaannya kini bukan lagi “ada masalah atau tidak,” melainkan seberapa besar masalah yang selama ini ditutup-tutupi.

Di tengah memuncaknya situasi, satu hal menjadi terang: kepercayaan publik terhadap PT Imasco nyaris runtuh total. Janji perusahaan kini terdengar seperti rekaman lama—diputar berulang, tapi tak pernah nyata dirasakan.

Ketua MAKI Jatim, Heru, menegaskan tanpa tedeng aling-aling:

“Ini bukan lagi aspirasi. Ini peringatan terakhir. Kalau keadilan terus diabaikan, maka perlawanan akan jadi jawaban. Dan kami tidak akan mundur selangkah pun.”

Jember Selatan kini bukan lagi wilayah yang diam. Ia telah berubah menjadi simbol perlawanan—tempat di mana rakyat berhenti berharap dan mulai bergerak.

( erman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here