Refleksi Raina Buda Wage Ukir, Kepemimpinan, Nir Empati, Butanya Spìritualitas

0
40

Ilustrasi

 

Penulis : Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, pengamat kecenderungan masa depan.

Rabu, 22 April 2026 raina Buda Wage Ukir, momentum untuk berefleksi tentang kualitas kepemimpinan publik dewasa ini.
Dalam konteks Bali yang “mengharu biru” krisis sampah berkepanjangan, gambaran kegagalan pejabat publik untuk menyediakan jasa pelayanan umum -public utilities-. Kalau tidak mampu melaksanakannya, pejabat publik ybs. secara UU bisa dikenakan sangsi administrasi dan juga pidana. Kesan publik, tanggung jawab ini dibebankan ke masyarakat, diproduksikan wacana, sampah menjadi tanggung-jawab masyarakat, pemerintah boleh lepas tanggung jawab. Gambaran dari kepemimpinan yang tidak kompeten plus nir empati bagi kepentingan publik. Padahal secara etis normatif, Dharma kepemimpinan melayani kepemimpinan publik, karena sumber daya negara dikelola pemerintah. Hak pengelolaan dana negara mesti seimbang dengan kewajiban melayani publik. Cara berpikir yang sering “nyaplir” bisa karena lemahnya pengawasan, “aji.mumpung” dan warisan purba feodalisme. Secara keimanan, pemimpin yang lepas tanggung jawab, nir empati, mencari rasionalisasi untuk lepas tanggung jawab, menggambarkan pemimpin yang munafik, rapuh secara karakter plus inkompetensi yang akut. Kualitas pemimpin seperti, merujuk pemikiran Svami Vivekananda, adalah mereka yang buta secara intelektual dan buta secara spiritual -intelectual and spiritual illiterate-.
Buta secara intelektual bisa dalam artian pengetahuan dan kecerdasan yang dimiliki dijadikan alat manipulasi untuk kepentingan personal dan kelompoknya dan kemudian merugikan kepentingan publik. Buta secara spiritual, ambisi, keinginan, keserakahan menutupi kemulyaan diri, baca keluhuran budi pekerti, Atman, mengakibatkan lupa diri, kegelapan Jiwa dan matinya empati.

Tantangan bagi manusia dewasa ini, yang antara lain ditandai oleh kecanduan akan kekuasaan, memuja benda ekonomi tanpa reserve dan “kegilaan” akan titel serta puja-puji berlebihan tehadap prestasi yang sebagian besar palsu.

Baca Juga :  Wawali Arya Wibawa Buka Explora FBTSH Universitas Bali International

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here