Krisis Kepemimpinan Nusantara dari Perspektif Filosofi Kepemimpinan Prabu Airlangga

0
261

Ilustrasi

Prabu Airlangga raja di Jawa Timur yang ternama, putra dari raja Bali di era Bali Pertengahan Gunapriya Dharmapatni – Udayana Warmadewa. Sang Ayah-Ibu meninggalkan jejak peradaban yang kaya, jejak peradaban Tukad Pakerisan nan kaya, mewariskan Desa Pakraman dengan sistem keyakinan Tuhan Tri Murti dengan Kahyangan Tiga Nya, yang sampai hari ini lestari.

Airlangga mengikuti jejak spirit kepemimpinan Ayah-Ibunya, menyebut beberapa dari spirit itu: kepemimpinan berbasis spiritualitas (sasmita alam raya menjadi batu penjuru kepemimpinan). Tidak haus kuasa, tahu saat yang tepat untuk mundur dari kekuasaan, untuk melanjutkan tapa, brata bagi kehidupan selanjutnya pasca tidak berkuasa.

Prabu Airlangga mundur pada saat berusia sekitar 51 tahun. Pemimpin yang tidak haus kuasa. Tempat petilasan Prabu Airlangga “bercerita” banyak tentang bobot spiritualitas sang raja. Sebut saja petilasan cum petirtan Jolotundo di kaki Gunung Penanggungan Kecamatan Mojosari, Jawa Timur.

Gunung Penanggungan menjadi orientasi rokhani cum kepemimpinan Sang Raja, mengikuti leluhurnya terdahulu, Raja Sindok yang bergelar Cri Isyana Wikrama Damma Tungga Dewa.
Orientasi rokhani yang diikuti oleh keturunannya, mulai dari Prabu Jayabaya – Wisnu Wardhana – Kertha Negara (pencetus awal ide besar Nusantara).

Raja-raja dari dinasti Singhasari.
Dilanjutkan oleh putrinya Gayatri Rajapatni yang secara de facto menjadi raja Majapahit pertama, mengambil peran sang suami Raden Wijaya. Gayatri Rajapatni “penemu” Rakryan Ki Patih Gajahmada, merumuskan konsepsi Nusantara secara lebih rinci, dengan mendeklarasikan Sumpah Palapa di era raja Hayam Wuruk.

Trah dinasti Singasari dan juga Majapahit menggunakan orientasi, kiblat rokhani ke Pucak Gunung Penanggungan.

Prinsip dasar yang menjadi spirit rokhani Gunung Penanggungan, pemimpin semestinya menjalankan Dharma kepemimpinan, “ojo dumeh” jangan mentang-mentang dengan kekuasaan.
Pelanggaran terhadap Dharma kepemimpinan, membuat “pulung” kepemimpinan kembali ke jagat raya ( akasa yang tidak terpanai).

Baca Juga :  Penyuluh Agama Hindu Gelar Lomba Perdana Sasar Generasi Muda

Keyakinan rokhani ini, membuat pemimpin kehilangan “pulung”nya, tuna keteladanan, terjadi bencana alam di mana-mana, nilai manusia dinihilkan, terjadi “goro-goro” yang meluas di tanah Jawa.

Fenomena krisis kepemimpinan di Bumi Nusantara dari perspektif filosofi kepemimpinan Prabu Airlangga.

Oleh : Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pembelajar sejarah kepemimpinan di tanah Bali danJawa, pengamat kecenderungan masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here