Krisis Sampah Memuncak, Niti Mandala Renon Digruduk Truck Sampah, Bukti Gubernur Bali Tuna “sense of crisis dan “sense of urgrncy”

0
94

Balinetizen.com, Denpasar –

 

Krisis Sampah Memuncak, Niti Mandala Renon Digruduk Truck Sampah, Sebaiknya Secara Kesatria Gubernur Koster Mengundurkan Diri.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Kuturan Dharma Budaya, LSM yang mensosialisasikan pemikiran Mpu Kuturan Raja Kertha, Kamis 16 April 2026.

Dikatakan, Hari ini 16 April raina Tilem Kedasa, raina ” penutup” bulan bersih Sasih Kedasa. Raina sarat makna rokhani di wilayah ada seorang raja yang bergelar Asta Sura Bumi Banten, pemimpin utama dalam sebuah pulau dimana masyarakatnya tekun “mebanten”.

Menurut Jro Gde Sudibya, rainan yang semestinya penuh ketenangan, ditandai oleh demo semeton pengangkut sampah yang ambang batas kesabarannya telah terlewati.

“Niti Mandala, menurut sang penggagas Gubernur Mantra adalah kawasan kepemimpinan yang berwibawa karena tegaknya Dharma kepemimpinan,” katanya.

Dikatakan, kepemimpinan berbasis spiritualitas, sebagaimana diekpresikan dalam lingha Bajra Sandhi, keterpautan dengan Tuhan Swayambu karena setia menjalankan Dharma kepemimpinan.

Hari ini, 16 April 2026 nemu raina Tilem Kedasa, Niti Mandala tercemar dengan bau busuk sampah, akibat kepemimpinan Bali gagal dalam penyediaan jasa publik (publik utilities) bagi.masyarakat.

Secara teknokratis, kata Jro Gde Sudibya, Pemda Bali, Pemda Badung, Kodya Denpasar yang punya dana cukup, pilihan teknologi tersedia dan model kelembagaan dan pengelolaan melimpah untuk bisa ditiru. Upaya “bench marking” melimpah. Yang kurang rasa empati untuk publik.

Dikataka, karena krisis sampah ini yang telah berlangsung lama, tanpa solusi, Gubernur Bali sebagai “top leader” tuna “sense of crisis dan “sense of urgrncy” sebaiknya secara kesatria mengundurkan diri.

Menurut Jro Gde Sudibya, tidak perlu lagi membangun pencitraan, karena faktanya telah gagal memimpin. Dana pencitraan yang konon berjumlah Rp.270 M dipergunakan untuk setoran ke Danantara untuk membelanjai program W to E, dalam bahasa populer PSEL, pengelolaan sampah untuk energi berkelanjutan.

Baca Juga :  Benefit Tinggi, Sandra Dukung Pemkab Badung Tambah Penyertaan Modal di Bank BPD Bali

“Dengan catatan PSEL bukanlah pasea, obat segala penyakit krisis sampah, karena mesti dihitung dampak negatif lingkungannya terutama emisi Co2, mengingat suhu permukaan bumi Bali dalam 70 tahun terakhir telah naik 1,9 derajat celsius, lebih tinggi dari Kesepakatan Paris (2016) sebesar 1,5 derajat celsius,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, Tilem Kedasa 16 April 2024 bermakna rainan yang sangat khusus, karena mulai besok “ngenjek” sasih Jiestha, Sadha, pada masyarakat Bali Pegunungan disebut “Bintang ngerem”, para dewa-dewi meyasa di sorga langit ke 7, dan krama Bali tidak melakukan pemujaan.

“Tekun bekerja, menyongsong datangnya bulan pertama Sasih Kasa. Raina penutup sasih kedasa, pada masyarakat yang sangat menghargai pemerintah, merujuk ke Guru Wisesa Bhakti, kemudian terjadi protes luar biasa dengan aroma bau busuk Sampah, sasmita – tanda tanda alam” yang yang mesti disimak tuan-puan penguasa,” kata Jro Gde Sudibya.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here