Balinetizen.com, Denpasar
Konon perayaan Galungan dimaknai sebagai perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma dimulai di masa Bali dalam pengaruh kekuasaan Majapahit. Tetapi, realitasnya kali ini sangat jauh berbeda. Memaknai Perayaan Galungan dalam Kondisi Bali dihadapkan pada kondisi darurat dan krisis lingkungan.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di Desa Tajun, Den Bukit Bali Utara, pada Minggu 16 Nopember 2025.
Dikatakan, di abad ke 14 Majapahit berada di puncak kekayaannya, karya sastra ternama Sutasoma oleh Mpu Tantular lahir di era ini. Gambaran dari puncak kejayaan Majapahit dengan sistem keyakinan keagamaannya Ciwa-Budha yang kesohor itu.
Menurut Jro Gde Sudibya, Pemaknaan Galungan sebagai “hari kemenangan” diperkirakan berakar dari teologi sistem monoteisme, keyakinan dari Tuhan yang satu dan tunggal.
“Dari para teolog dan juga para antropolog agama kita memperoleh pengetahuan, sistem moneteisme ini berkembang sedemikian rupa menjadi sebut saja antropotisme, untuk sederhananya hubungan manusia dengan Tuhan menjadi “pusat” dan “inti”, sehingga kemudian menjebak manusia punya otoritas nyaris penuh pada alam, sehingga bisa saja berbuat semena-mena terhadap Alam dengan motif apapun, bahkan dengan motif keserakahan,” kata Jro Gde Sudibya.
Dikatakan, Mahatma Gandhi jauh-jauh hari telah mengingatkan: “bumi yang kita huni cukup dapat memenuhi kebutuhan dasar penghuninya, tetapi tidak akan cukup memenuhi keserakahan manusia”.
“Antropotisme dan pernyataan Gandhiji di atas menjadi penting dan relevan di tengah krisis iklim yang berlangsung, dengan bencana hidrologi yang dashyat, dan juga Bali yang sedang mengalami darurat dan krisis lingkungan,” katanya.
Menurutnya, dalam kedaruratan lingkungan yang sedang menimpa Bali, ternyata dalam sejarah Bali di Masa Bali lebih awal, Era Bali Pertengahan, diperkirakan sekitar abad ke 11, perayaan Galungan direaliasikan dengan Pemulyaan Air, dimana Subak Bawah, perdesaan di wilayah pesisir dan di Subak Atas, perdesaan di Daerah Pegunungan dan di pinggiran Danau.
Dikatakan, Perayaan Galungan merupakan perayaan Ngusaba Desa, dan upakaranya disebut “Petoyan”, “Petirthan”.Perayaan yang berelasi dengan sikap dan keyakinan yang respek pada alam.
Keyakinan dari Agama Alam yang bertumbuh di perdesaan Alas Penulisan, dengan keyakinan (dalam bahasa ke kinian), “Alas, panggungan untuk memuja Tuhan”.
Dikatakan, Monoteisme yang “salah arah” yang melahirkan prilaku sewenang-wenang pada Alam semestinya dikoreksi, kembali kita menyimak Agama Alam untuk penyelamatan Alam dan masa depan manusia itu sendiri.
Menurut Jro Gde Sudibya, dalam sastra tua di atas, merayakan Galungan di saat Alam Bali rusak parah, “benyah latig”, jangan-jangan perayaan Galungan kita “nyaplir” dari warisan tetua kita.
“Semestinya, Perayaan Galungan sebagai momentum untuk mawas diri untuk penyelamatan lingkungan Bali, tidak sekadar perayaan “palsu” kemenangan Dharma atas Adharma, dalam realitas “momo angkara” nyaris menguasai seluruh relung kehidupan,” kata Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di Desa Tajun, Den Bukit Bali Utara.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

