Balinetizen.com, Jakarta
Memberantas Mafia Tambang Melalui Menteri Keuangan Diperlukan tetapi Tidak Cukup “Poweful”.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat kebijakan publik, Kamis 11 September 2025 di Jakarta.
Menurut Jro Gde Sudibya, untuk memberantas mafia tambang diperlukan tim inti di jajaran kabinet yang berani, kuat, cerdas berintegritas setia pada idealisme Presiden.
“Menteri Pertambangan seharusnya diganti dengan intelektual sekaliber Prof.Soebroto ( Menteri Pertambangan di era Pak Harto). Merujuk ke Menteri di era kepemimpinan Pak Harto yang “moncer”,” katanya.
Menyebut beberapa nama orang sekelas Radius Prawiro sebagai perdagangan. Orang sekelas Prof.Sadli sebagai Menteri Perindustrian. Orang sekelas Rusmin Nurjadin sebagai Menteri Perhubungan. Orang sekelas Mar’ie Muhammad sebagai Dirjen Pajak, sekelas Haryono Danutirtho sebagai Dirjen Pajak. Orang sekelas Marsilam Simandjuntak sebagai Mensesneg, sekelas Saadilah Mursid sebagai Mensekab.
Dikatakan, Analogi ini barangkali tidak seluruhnya tepat, karena lingkungan geo politik telah banyak berubah, “Desa, Kala, Patra” berubah.
” Tetapi intinya sistem meritokrasi menjadi basis seleksi kabinet yang dibuat ramping – zaken kabinet- orientasinya program dan target terukur, tidak over dosis pencitraan dan politicking. Tantangan Presiden Prabowo menjelang satu tahun pemerintahannya,” katanya.
Dikatakan, ini kesempatan “momenth of truth bagi Presiden Prabowo untuk menunjukkan kepemimpinan otetintknya tidak lagi dalam bayang-bayang pemerintahan sebelumnya. Jangan lagi (kesan publik) “terpenjara” oleh warisan masa lalu yang menjadi beban kepemimpinan ke depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

