Mengenang 92 Tahun, Antropolog I Gustli Ngurah Bagus, Urgensi Revitalisasi Baliologi dalam Bayang-Bayang Krisis Kebudayaan Bali

0
527

Jro Gde Sudibya

Prof.Dr.I Gusti Ngurah Bagus, lahir 12 Juli 1933 di Denpasar Bali. Ilmuwan cum budayawan yang memilih jalan kebudayaan dalam memperjuangkan idealisme kehidupannya. Sebagaimana sering yang beliau sampaikan, dengan merujuk ucapan filosof ternama Erich Fromm: hidup tidak sebatas ” to have”, tetapi harus “menjadi” TO BE. Sederhananya, hidup dan kehidupan, tidak sekadar urusan “tetek bengek” kepemilikan pernak -pernik benda, tetapi hidup mesti berguna dan bermakna (dalam perspektif manusia dan kemanusiaan). Menyimak realitas sosial di masa awal reformasi, tahun-tahun awal 1990’an, beliau sering mengutip ucapan Pak Hatta di awal masa kemerdekaan, merujuk tulisan filosof ternama Jerman Schiler, ” suatu abad besar telah lahir, hanya saja ia (abad itu) hanya menemukan manusia-manusia kerdil”.
Prof.Bagus dikenal gigih memperjuangkan idealisme tentang pentingnya kebudayaan sebagai batu penjuru kehidupan terlebih-lebih dalam perumusan kebijakan publik yang berhubungan dengan transformasi masyarakat yang bernama modernitas.
Sebagai Guru, tidak pernah lelah dan berhenti untuk mendidik para muridnya, koleganya dan mereka yang punya idealisme yang sama tentang arti penting inti sari kebudayaan dalam mengatur kehidupan, memberi makna dan menciptakan visi masa depan. Idealisme ini dibumikan dalam sebuah kelembagaan “cultural studies” di FIB UNUD. Jejak sejarah intelektualnya tampak nyata dalam pendirian BALIOLOGI, Studi Tentang Kebudayaan Bali, yang pernah mendunia, yang sekarang sayup-sayup terdengar, antara ada dan tiada.
Tantangan dalam Revitalisasi Baliologi bagi UNUD, rumpun akademika dari mana almarhum berasal, dengan sejumlah alasan. Pertama, Bali dalam bayang-bayang krisis kebudayaan, multi krisis: kepemimpinan, intelektual publik, intelektual yang menyuarakan kepentingan publik, pendangkalan berpikir yang luar biasa terpuruk, ke titik nadir pengetahuan. Kedua, basis kebijakan publik, nyaris tidak didasarkan oleh penelitian kebudayaan yang mumpuni, nyaris sekadar “omon-omon” politik dengan “mendewakan” elektabilitas. Ketiga, “out put” nya, masa depan Bali dalam ancaman: lingkungan hidup, keterpurukan masyarakat lokal secara ekonomi, daya tahan budaya (meminjam istilah Prof.Bagus) menjadi rapuh dan nyaris “terjungkal”.
Diperlukan kritik kebudayaan terhadap kebudayaan Bali yang lebih keras, sebagai ekspresi terhadap kecintaan akan Budaya Bali, dengan cara “matbat” seperti yang dicontohkan oleh antropolog ternama Bali ini, walaupun kadang-kadang disalah-mengerti oleh mereka yang anti kritik.

Baca Juga :  Gerakan Penanaman Mangrove Nasional, TNI/Polri Tanam Ribuan Pohon Bakau Di Pemuteran

Jro Gde Sudibya, bersama dengan Prof.Bagus, dengan sejumlah teman mendirikan Forum Penyadaran Dharma, kelompok diskusi di masa awal gerakan reformasi. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here