Balinetizen.com, Denpasar
Sejarah kontemporer negeri ini mencatat, peristiwa 15 Januari 1974 di Jakarta, demonstrasi besar-besaran mahasiswa di Jakarta untuk menolak kedatangan PM Jepang Kakuei Tanaka.
Hal itu dikatakan I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik, Minggu 14 Januari 2024.
Dikatakan, alasan pokok dari demo ini adalah, begitu kuatnya cengkeraman kekuatan ekonomi Jepang terhadap ekonomi Indonesia, yang membuat kalangan mahasiswa dan intelektual tidak lagi punya harapan akan masa depan ekonomi Indonesia, dari perspektif pemerataan dan keadilan.
“Diduga oleh kalangan mahasiswa, elite di sekitar penguasa “main mata” dengan sejumlah perusahaan Jepang yang melakukan investasi di sini,” katanya.
Dikatakan, pada saat itu demo murni mahasiswa, dirusak oleh kelompok perusuh, perusuh melakukan kekerasan di Tanah Abang dan kemudian Pasar Senen, yang direkayasa intel negara, untuk menggagalkan aksi mahasiswa.
“Pada saat itu, Ketua Dema UI Hariman Siregar dan sejumlah aktivis mahasiswa ditahan, dengan tuduhan palsu penggerak kerusuhan,” kata I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan politik.
Menurutnya, mengenang 50 tahun Malari, dalam fenomena lahirnya Neo Orde Baru, ada sejumlah hikmah kesejarahan yang bisa dipetik, menyebut beberapa, pertama, peran politik mahasiswa dan kalangan intelektual tetap penting, sebagai penjaga hati nurani bangsa, dalam menghadapi kekuasaan yang punya kecendrungan salah guna -power tend to corrupt- .
Kedua, otoritariannisme yang harus dilawan, dimana mahasiswa, kalangan intelektual dan bagian rakyat yang peduli pada keselamatan demokrasi, menjadi garda terdepan untuk melawan kemunculan fenomena NEO ORBA.
Ketiga, dalam demam pemilu yang sedang berlangsung, ketiga kelompok di atas, semetinya melakukan perlawanan politik di bilik suara, dengan tidak mencoblos paslon dan partai politik yang merepresentasi kekuatan Neo Orba. (Adi Putra)

