Pasca Pemilu, Harga Beras Naik ke Tingkat “Pilu”, Sekitar 44 persen, dimana Negara?

0
173

Ilustrasi: Antrian beras

Balinetizen.com, Denpasar

Pasca Pemilu, harga beras tetap bertengger tinggi Rp.17 ribu per kg.selama 3 minggu terakhir. Tingkat harga eceran di sebuah perdesaan di Bali Utara. Sebelumnya,selama 2 bulan harga beras bertengger di harga Rp.16 ribu per kg.

Hal itu dikatakan I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi pembangunan, Kamis 22 Februari 2024, menanggapi antrian warga menunggu beras.

Dikatakan, dibandingkan harga beras 6 bulan lalu , harga relatif stabil di Tingkat harga Rp.12 ribu per kg. Ini berarti telah terjadi kenaikan harga 44 persen dalam 6 bulan terakhir.

Padahal, kata Sudibya, secara statistik kita mengetahui, kenaikan harga pangan akan berdampak sangat serius terhadap bertambahnya jumlah orang miskin.

” Dengan angka garis kemiskinan Rp.550 ribu pengeluaran per orang per bulan, angka kemiskinan sekitar 10 persen dari jumlah penduduk, setara dengan 27 juta orang. Dengan kenaikan harga beras 44 persen, terutama dalam 2 bulan terakhir, secara statistik diperkirakan jumlah orang miskin naik tinggi,” katanya.

Menurutnya, menyimak naik tingginya harga beras dan kelangkaan yang terjadi, bersamaan dengan kontroversi dana APBN tahun 2024 sebesar hampir Rp.500 T, yang diduga dipergunakan untuk pemenangan dalam kampanye Pilpres 14 Februari 2024.

Menurutnya memberikan indikasi dari terjadinya anomali kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Dikatakan, antrean beras yang sekarang berlangsung, berbarengan dengan tingginya kenaikan harga, dan sebelumnya masyarakat miskin semacam dijadikan alat politik untuk meraup suara pemilih, melalui bansos yang secara politik dimanipulasi, menggambarkan paling tidak beberapa isu strategis.

Pertama, kemiskinan dijadikan alat politik untuk meraup suara dengan menggunakan dana negara melalui kebijakan fiskal yang sarat masalah.

Kedua, program ketahanan pangan nasional hanya wacana, barangkali sebatas omdo, omong doang. Ketiga, program Nawa Cita tentang: swasembada pangan, keberpihakan: kepada “wong cilik” dan masyarakat petani,sekadar dokumen di atas kertas, tamsilnya “jauh panggang dari api”. (Adi Putra)

Baca Juga :  Sidak Prokes dan Jam Malam, Tim Gabungan Beri Penindakan dan Lakukan Rapid Tes Antigen Secara Acak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here