Penulis : Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu.
Kalau disimak “17+8 Tuntutan Rakyat” yang merupakan kulminasi dari demo organik yang dimotori oleh mahasiswa, buruh, gerakan masyarakat sipil, jelas memberikan penggambaran gerakan reformasi 27 tahun lalu telah gagal dilaksanakan oleh pemimpin yang memperoleh mandat dari proses Pemilu prosedural. Pemilu telah terjadi secara prosedural, tetapi secara substansial tidak memperbaiki nasib rakyat pemegang kedaulatan rakyat. Pejabat publik yang terpilih sebagai pemimpin formal, sarat dengan nuansa ketidak-jujuran, inkompetensi yang bermuara tidak dipercaya rakyat -social distrust leader-.
Caraswati, untuk sederhananya aliran pengetahuan rokhani tanpa henti -flow of truth- dari Alam Raya, semestinya melahirkan pertemuan “gabungan” interseksi dengan kemulyaan yang ada di dalam diri, Rasa Batin, Akal Nudi, Atman.
Pertemuan ini dalam bahasa statistik, INTERSEKSI Atman – Brahman (baca Devi Caraswati) melahirkan insan-insan manusia tercerahkan, dalam ungkapan budaya Bali insan-insan manusia “Metaksu” dalam melakoni dan memaknai kehidupan. Mereka yang karena “panggilan waktu kehidupan” menjadi pemimpin, dengan kualifikasi Pemimpin “Metaksu”.
Pemimpin “Metaksu” dengan tiga kualifikasi: pertama BERINTEGRITAS.Seorang pribadi utuh, penyatuan Bayu, Sabda, Idep, terintegrasinya Body, Mind, Sulawesi, mereka yang telah sampai di tingkat yoga yang ke 8 (dalam Astangga Yoga Rsi Patanjali),Moksha, kebebasan rokhani di dunia maya ini, kemudian berperan sebut saja sebagai “social healer” penyembuh sosial bagi rakyat yang dipimpinnya. Melalui keteladanan kepemimpinan, “manut sesana” sesuai dengan amanat konstitusi. KOMPETEN.Punya kompetensi mumpuni, kecerdasan teknokratis dalam merumuskan program dan implementasinya, kecerdasan emosional empati yang datang dari relung batinnya yang dalam. Bukan empati dangkal dan bahkan palsu akibat pencitraan yang banal. Sinergi antara Integritas dengan Kompetensi di atas, secara alami melekat melahirkan simpati, kerelaan berbagi dan kepercayaan -public trust- dari masyarakat.
Pemimpin berbasis spiritualitas yang.membumi, meminjam ungkapan seorang sastrawan “tidak mengukir langit abstrak rokhani” yang berujung kegagalan.
Rahajeng Nyanggra Raina Caraswati, “Semoga Pikiran Baik Datang dari Segala Penjuru”.
Rahayu.

