Balinetizen.com, Denpasar
Pengamat Ekonomi dan Pariwisata Trisno Nugroho mengingatkan Bali agar tidak terlalu bergantung pada sektor pariwisata sebagai satu-satunya mesin pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pariwisata tetap menjadi kekuatan utama Bali, tetapi harus mampu menggerakkan sektor ekonomi lainnya.
Hal tersebut disampaikan Trisno Nugroho saat menjadi narasumber dalam dialog publik bertajuk “Meneropong Bali dari Sisi Berbeda”, yang digelar dalam rangka HUT ke-14 Ikatan Wartawan Online (IWO) dan HUT pertama IWO Provinsi Bali di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Minggu (30/8/2026).
Trisno mengatakan, secara umum perekonomian Bali menunjukkan kinerja positif. Pertumbuhan ekonomi Bali tercatat 5,48 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 5,82 persen pada 2025.
Sementara itu, pada triwulan I 2026 ekonomi Bali tumbuh 5,58 persen secara tahunan atau year on year (yoy), kemudian meningkat menjadi 5,78 persen pada triwulan II 2026.
Namun, menurut Trisno, angka pertumbuhan tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa struktur ekonomi Bali sudah kuat dan memiliki ketahanan terhadap berbagai tekanan.
“Bali berhasil—namun keberhasilannya masih rentan,” kata Trisno dalam paparannya.
Trisno menjelaskan, ketergantungan terhadap sektor pariwisata membuat perekonomian Bali rentan ketika terjadi perlambatan pada industri tersebut. Persoalan lainnya adalah konsentrasi aktivitas ekonomi di kawasan tertentu, kebocoran nilai ekonomi, serta tekanan terhadap daya dukung lingkungan.
Karena itu, ia menilai Bali tidak perlu meninggalkan pariwisata. Sebaliknya, sektor pariwisata harus menjadi penggerak bagi sektor-sektor ekonomi lainnya.
“Diversifikasi di sekitar pariwisata, bukan meninggalkannya,” ujarnya.
Menurut Trisno, pariwisata harus mampu menjadi pasar bagi berbagai produk dan jasa lokal. Belanja wisatawan di hotel, restoran maupun berbagai atraksi wisata harus menciptakan permintaan yang lebih besar bagi petani, nelayan, perajin, pelaku UMKM, hingga sektor ekonomi kreatif.
Dengan pola tersebut, nilai ekonomi yang dihasilkan pariwisata tidak hanya berhenti di industri pariwisata, tetapi dapat berputar lebih luas di tengah masyarakat Bali.
Trisno menawarkan lima prinsip yang dinilai penting untuk memperkuat struktur ekonomi Bali, yakni peningkatan nilai tambah lokal, keterhubungan antarsektor, kesempatan ekonomi yang adil, pemerataan wilayah, serta penerapan batas ekologis dalam pembangunan.
Selain itu, ia mendorong pengembangan lima mesin pertumbuhan baru yang dapat menjadi penopang ekonomi Bali di masa mendatang.
Kelima sektor tersebut meliputi pangan bernilai tambah, ekonomi kreatif, ekonomi digital, kesehatan dan pendidikan, serta ekonomi hijau.
“Kelima sektor ini harus dipandang sebagai portofolio ketahanan ekonomi Bali,” jelasnya.
Untuk mendukung pengembangan sektor tersebut, Trisno juga menekankan pentingnya membuka akses masyarakat terhadap empat hal, yakni keterampilan, pasar, pembiayaan, dan teknologi.
Pelatihan tenaga kerja, kata dia, harus disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha. Sementara UMKM perlu memperoleh akses pasar, pembiayaan produktif, serta teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan pemasaran.
“Bantuan tanpa pasar menciptakan ketergantungan. Pasar tanpa kapasitas meninggalkan usaha kecil,” katanya.
Dalam dialog tersebut, Trisno juga mendorong pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi agar pembangunan tidak terus terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan.
Ia membagi peluang pengembangan ekonomi berdasarkan kawasan. Bali Selatan dapat diperkuat sebagai gerbang global, pusat jasa bernilai tinggi, MICE, dan inovasi.
Bali Barat dapat dikembangkan melalui sektor pangan, konservasi, dan ekonomi laut. Sementara Bali Utara memiliki peluang di bidang logistik, pendidikan, perikanan, dan pariwisata berbasis alam.
Adapun Bali Timur dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan budaya, desa wisata, pertanian, dan ekonomi kreatif. Sedangkan Bali Tengah dapat diarahkan menjadi kawasan berbasis pengetahuan, wellness, dan pertanian bernilai tambah.
Gagasan tersebut dirangkum dalam konsep “Satu Bali, banyak pusat pertumbuhan.”
Selain diversifikasi ekonomi, Trisno juga mendorong perubahan paradigma dari pariwisata berkelanjutan menuju pariwisata regeneratif.
Menurutnya, pariwisata tidak cukup hanya memastikan lingkungan tidak semakin rusak. Pariwisata ke depan harus mampu membuat alam, budaya, dan kapasitas masyarakat menjadi lebih baik.
Masyarakat Bali juga harus ditempatkan bukan hanya sebagai pekerja di sektor pariwisata, tetapi sebagai pemilik, pemasok, pelaku usaha, sekaligus pengambil keputusan.
Trisno menilai gagasan tersebut perlu segera diterjemahkan menjadi kebijakan konkret. Langkah yang dapat dilakukan antara lain pemetaan rantai pasok dan kebocoran nilai ekonomi, penetapan target belanja lokal, pendataan UMKM, penguatan pembiayaan produktif, hingga pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di luar Bali Selatan.
“Bali tetap membutuhkan pariwisata sebagai kekuatan utama. Namun, pariwisata harus mampu menghidupkan sektor lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga budaya, sekaligus memulihkan lingkungan,” pungkasnya.
Dialog publik dalam rangkaian HUT ke-14 IWO dan HUT pertama IWO Provinsi Bali tersebut menegaskan bahwa masa depan ekonomi Bali tidak harus mempertentangkan pariwisata dengan sektor ekonomi lainnya.
Sebaliknya, pariwisata diharapkan menjadi penggerak lahirnya lebih banyak mesin pertumbuhan ekonomi Baliyang kuat, inklusif, merata, serta mampu menjaga dan memulihkan lingkungan.(RLS)

