Balinetizen.com, Denpasar –
Penentuan “Amreg Parama Artha” dalam kepemimpinan dengan prioritas yang tajam dalam penentuan “sense of urgency” untuk 3 bulan ke depan, sampai dengan 31 Desember 2025.
Jumat 3 Agustus 2025, Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, dan pengamat kecenderungan masa depan mengatakan, perlu skala prioritas kebijakan dan keputusan penting dalam memimpin Bali tiga bulan ke depan.
Menurutnya, agenda penyelamatan lingkungan dalam darurat lingkungan yang nyata. Langkah antisipasi dalam penyediaan dana darurat bencana, untuk mengelola risiko dadakan bencana yang sulit diantisipasi.
Dikatakan, perlu kepemimpinan yang menunjukkan empati, berada di garda terdepan dalam mengelola krisis, menjadi “avant gaarde” dalam mengembangkan sikap gotong royong, “paras-paros”, merintis kembali rasa “senasib sepenanggungan”.
“Industri pariwisata telah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Bali dalam beberapa dasa warsa terakhir, kita rasakan bersama ketika industri ini mati suri akibat pandemi Covid-19, dengan pertumbuhan ekonomi negatif Bali 9,3 persen tahun 2020, demikian juga tahun 2021 sekitar minus 3 persen,” kata Jro Gde Sudibya.
Menurutnya, tantangannya menjaga suasana kondusif industri ini menyongsong “high seasons” akhir tahun.
Menurut Jro Gde Sudibya, sisi buruk, -the dark numbers- dari prilaku buruk yang saling menyalahkan, merupakan penggambaran kekerdilan diri, semestinya diminimalkan, sehingga lebih fokus ke kerja bersama, kerja bareng untuk menyusun agenda dalam meminimalkan dampak negatif dari prahara yang sedang menimpa Bali.
‘Berangkat dari sebut saja filosofi kehidupan, hukum Rwa Bhineda, “suka dan duka datang silih berganti”, kita bersama memasuki masa duka, diperlukan “penunggalan bayu, sabda idep”, penyatuan pikiran, perkataan, perbuatan dalam mengelola krisis,plus kekuatan “yasa kerthi”, perbuatan dengan dukungan ketulusan doa,” kata Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

