Perayaan Ciwa Ratri di Zaman Kali Yuga

0
222

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di Desa Tajun, di “Kaja Kangin” Bukit Sinunggal, Den Bukit, Bali Utara.

 

Tanggal 17 Januari 2025 raina Ciwa Ratri, penanggal panglong ping 14 nuju Tilem Kepitu. Merujuk karya sastra Ciwa Ratri Kalpa oleh Mpu Tanakung, malam “terbaik” untuk memuja Tuhan Ciwa. Sastra ini ada yang menafsirkannyasebagai “dogma”, ada pula sebagai tambahan sastra yang memperkaya untuk memperkuat spirit diri dalam melakukan pendakian rokhani menuju Pembebasan – Jiva Mukthi -.
Timbul pertanyaan reflektif, bagaimana sebaiknya kita memaknai Perayaan Ciwa Ratri ini Zaman Kali Yuga, yang secara teologi bisa dijelaskan, sebuah Zaman dimana pusat kesadaran manusia tidak lagi di Kepala, tetapi di Kaki, sehingga kesadaran ini semakin menjauh dari Kesadaran Murni manusia, baca Kesadaran Atman.
Akibatnya, prilaku umumnya manusia sangat didominasi oleh Rajah, Tamah, keserakahan, ketamakan, kebodohan, kemasa-bodoan dan kemalasan yang semakin mengotori pikiran, rasa, batin dan jiwa umumnya manusia. Pikiran fokus: Dhyana, Dharma, Samadhi menjadi semakin sulit karena sudah “disesaki” oleh: keakuan, keinginan dan, keserakahan.
Wacana di permukaan bisa saja tentang spiritualitas, tetapi realitas diri sudah “terpenjara” oleh keakuan.
Manusia nyaris total ditundukkan oleh oleh “ornamen”keinginan dan keserahan, uang, harta benda, jabatan dan banyak lagi atribut kekuasaan. Per teori memuja Tuhan, dalam realitasnya “memuja” benda ekonomi. Konsekuensinya, kemunafikan, bagian dari ke seharian kehidupan, “dipertontonkan” dan “dirayakan”. Ini merupakan fenomena umum di Zaman Kali Yuga. n
Namun demikian Kita bisa juga menemukan dengan mudah mereka yang jujur terhadap diri sendiri, sadar, “jagra” tidak ikut “gila” dan atau dilindas oleh kegilaan zaman, Zaman Edan.

Realitas ekologi, sosial kultural di Zaman Edan, alam rusak parah, nilai sosial kultural merosot, terjadi anomali, kekacauan peran. Banyak orang tidak lagi menjalankan perannya, pemimpin tidak lagi menjadi panutan, guru tidak lagi “digugu dan ditiru”, rokhaniwan tidak sedikit yang melanggar sesana/dhamakriya nya.
Perayaan Ciwa Ratri semestinya dimulai dengan pengakuan jujur dari fenomena di atas, dan menentukan sendiri dimana sebenarnya kualitas batin dan rokhani kita.

Baca Juga :  Bupati Tabanan Berikan Penghargaan Para Atlet Tabanan Peraih Medali PON XX Papua 2021

Pengakuan jujur -self integrity-sebagai “modal” batin untuk melakukan koreksi diri, “nyiksik bulu”, dalam proses melihat diri ke dalam -inner sight procesess-.
Proses melihat diri ke dalam, menuju lapisan diri yang semakin dalam: wijnana maya kosha, kebijaksanaan hidup menuju Ananda Maya Kosa, samudra final kebahagian.

Jagra, sadar diri, bukan sebagai pengetahuan di luar diri, tetapi membatin -embodied’, “menyinari” diri sepanjang hayat dibanding badan, dan kemudian “bekel mulih ke jati mula”.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here