Balinetizen.com, Denpasar
PHDI Pemurnian Pusat melaksanakan Pesamuhan Loka Sabha PHDI Pemurnian pada Sabtu (27/12/2025) di Griya Angkasa. Kegiatan ini menjadi forum evaluasi atas program dan dinamika organisasi di masa lalu sekaligus perumusan arah program kerja ke depan.
Pesamuhan tersebut pengurus PHDI Pemurnian dari tingkat pusat dan provinsi. Fokus utama pembahasan adalah mengevaluasi berbagai kendala dan kelemahan yang pernah dihadapi agar dapat diminimalisir dalam pelaksanaan program kerja selanjutnya.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Ketut Budiastawa S.Sos., M.Si, mengatakan bahwa evaluasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan ajaran, adat, dan budaya Hindu Dharma di Indonesia, khususnya di Bali.
“Kegiatan ini merupakan evaluasi terhadap apa yang telah terjadi dan apa yang sudah dilakukan PHDI Pemurnian. Dari hasil evaluasi ini, ke depan kita menyusun program kerja agar kendala dan kelemahan di masa lalu tidak terulang,” ujarnya.
Ia menegaskan, tujuan utama PHDI Pemurnian baik di tingkat provinsi maupun pusat adalah ngajegang adat, budaya, dan dresta warisan leluhur yang adi luhung.
Menurutnya, warisan tersebut disebut adi luhung karena telah terbukti mampu menjaga eksistensi Hindu Dharma, khususnya Hindu Bali, selama ribuan tahun hingga tetap ajeg sampai saat ini.
“Apa yang dilaksanakan oleh leluhur kawitan kita di Bali mendapatkan wahyu dari para leluhur suci. Inilah yang menjadikan Bali dikenal sebagai Pulau Dewata, dengan vibrasi kesucian yang sangat kuat,” katanya.
Ketut Budiastawa juga menjelaskan bahwa ajaran Tri Kaya Parisudha—manacika, wacika, dan kayika—menjadi fondasi utama yang diwariskan leluhur, sehingga pikiran, ucapan, dan perbuatan masyarakat Bali selaras dengan adat dan budaya.
“Karena itulah tanah Bali menjadi harum dan memiliki vibrasi yang kuat. Inilah sebabnya Bali disebut Pulau Dewata,” tambahnya.
Dalam pesamuhan tersebut juga disampaikan pandangan filosofis tentang perjalanan para maha rsi yang akhirnya mencapai moksa di Bali, sebagai simbol kesucian dan kekuatan spiritual Pulau Dewata.
Ia pun mengajak umat Hindu di Bali dan Nusantara untuk tetap bangga menjadi Hindu Bali dan Hindu Nusantara serta tidak mudah terpengaruh ajaran dari luar.
“Leluhur kita tidak mengutamakan jnana marga, tetapi karma marga. Ajaran itu dijalankan dan diamalkan, bukan hanya dipahami. Inilah yang menghasilkan Bali sebagai Pulau Dewata dan sering disebut pintu surga,” tegasnya.
Melalui Pesamuhan Loka Sabha ini, PHDI Pemurnian berharap penguatan nilai-nilai ajaran Hindu, adat, dan budaya Bali dapat terus terjaga serta diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi mendatang.(RED-BN)

