Balinetizen.com, Buleleng
Helatan pesta demokrasi akbar Pemilu Legeslatif dan Pilpres pada 14 Februari 2024 mendatang menjadi sorotan masyarakat pemilih untuk memilih wakilnya di dewan serta memilih calon presiden dan wakil presiden. Menariknya untuk di Kabupaten Buleleng, sebelum helatan akbar itu berlangsung, terselenggara Pemilihan Perbekel (Pilkel) serentak di 11 desa yang tersebar di 7 kecamatan se Kabupaten Buleleng pada Minggu, 24 September 2023 mendatang.
Lantas seperti apa tanggapan pimpinan Parpol peserta Pemilu 2024.
Ketua DPC Partai Gerindra Buleleng Gede Harja Astawa, SH saat dikonfirmasi pada Rabu, (6/9/2023) siang di sekretariat partainya mengaku helatan Pilkel Serentak yang mendahului gawe nasional Pemilu legeslatif dan Pilpres, baginya merupakan ajang pemanasan. Dalam artian bagaimana warga yang kebetulan di desanya mengikuti proses Pilkel untuk melihat sejauh mana ketetapan hatinya mengikuti proses demokrasi.
“Hal ini kadang kadang massa kita cuek, males kemudian apatis. Saya berharap agar di moment Pilkel ini, benar benar di manfaatkan untuk memilih calon pemimpin di desanya yang terbaik.” ujarnya.
Dan tentunya, ucap Harja Astawa dirinya juga menyadari bahwa, banyak kepentingan- kepentingan dalam proses yang spesial ini. Karena logikanya dari setiap politisi jika misalnya calon yang di dukung jadi, maka harapannya yang ada di desa yang bersangkutan akan diyakini perolehan suaranya besar. Namun dalam hal ini, dirinya berpikir lain. Kalaupun misalnya kepala desa atau perbekel yang terpilih itu di dukung oleh salah satu caleg dari salah satu partai, tidak serta merta nanti pada saat Pemilu suaranya berbading lurus dari perolehan suara itu sendiri. Karena pasti berbeda ruang lingkup perbekel dengan ruang lingkup dan kepentingan caleg dari berbagai partai itu, orientasinya pasti berbeda.
“Bisa saja ketika memilih perbekel kelompok itu bersatu untuk memilih si A, tetapi ketika nanti di suatu event lebih besar lagi yaitu pada saat pemilu, saya yakin mereka tidak mungkin selalu bersatu.” urainya.
Jadi dalam Pilkel ini, pihaknya berpesan agar siapapun nanti yang diberikan kepercayaan oleh masyarakat unruk menjadi perbekel, jadilah perbekel yang bijak, jadilah perbekel yang menyatukan komponen komponen masyarakat yang perkotak kotak pada saat menjelang pemilihan.
“Jangan sampai muncul ketidak puasaan, jangan sampai dipelihara perbedaan-perbedaan pendapat itu sampai dengan Pemilu 2024. Jangan sampai ada pemikiran saat Pilkel calonnya kalah, kemudian pada saat Pemilu selalu mencari siapa yang di dukung oleh calon terpilih akan di musuhi.
“Hal itu tidak bagus untuk membangun desa. Saya berharap proses demokrasi ini, di lalui dengan baik seperti Prabowo Subianto selalu mengingatkan bahwa setiap event, pemilih itu haruslah diikuti dengan perasaan suka ria dengan senang hati dan tetap merangkul untuk tetap menganggap atau bersikap bahwa mereka adalah saudara,” pungkas Harja Astawa yang kesehariannya ini sebagai advokat. GS

