Ilustrasi
Balinetizen.com, Denpasar
Sebanyak 45 Proyek fisik yang dibanggakan, secara fakta dirasakan sebagai Krisis Sampah yang “mengepung” Denpasar dan Badung. Ekspresi kepemimpinan yang gagal, karena AMPAH (teledor) dan melahirkan fenomena CAMPAH (tidak dihargai dan bahkan diolok-olok).
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan, Jumat 24 April 2026.
Menurut Jro Gde Sudibya, Visi yang sebut saja upaya mengukir langit rokhani, menghadirkan sorga di dunia dalam ungkapan Sad Kerthi Loka Bali dan kemudian Sat Kerthi Loka Bali, sorga dicoba dihadirkan di dunia, tetapi faktanya mercu suar ini merusak alam Bali -gumine benyah latig.
“Dengan kerusakan alam yang tidak terperikan, “social fabric” yang sarat masalah: kemiskinan akut, tingginya gangguan jiwa dan bundir. Tamsilnya, bukan sorga yang dihasilkan, tetapi neraka menjadi bagian ke seharian sebagian krama Bali,” katanya.
Menurutnya, pembangunan Pura, Bale Desa dan Bale Banjar dibanggakan, dalam fenomena serius, agama spiritual nyaris dihabisi oleh “air bah” agama sosial, agama rame-rame dengan kedangkalan rasa, hati dan nurani.
Dikatakan, mMluncul fenomena sosial mengerikan, upakara semakin semarak, Pura bergemelapan, tetapi kejujuran, etika susila dan moral tersungkur nyaris ke titik nadirnya. Tetua Bali sudah lama mengingatkan, jangan membawa sikap pongah, tidak jujur dan ” keletehan” ke Pura.
Menurut Jro Gde Sudibya, paket Jilid 2 proyek mercu suar tidak berangkat dari krisis yang menimpa Bali, krisis alam, manusia dan kebudayaannya. Tampaknya Gubernur Koster dan tim, menafikan krisis yang menimpa Bali: 4 danau rusak parah, hutan terus digunduli, Gunung sama saja.
“Lihat kerusakan lingkungan dashyat yang menimpa Gunung Tampurhyang. Agaknya Gubernur Koster dkk. malas berpikir untuk membumikan Sad Kerthi Loka Bali, dan atau menyerahkan seakan-akan cek kosong ke sejumlah perencana di Pusat tanpa melibatkan Bappeda Bali dan kalangan intelektual yang peduli pada Bali,” katanya.
Dikatakan, kalau proyek pertama Jilid satu dengan hasil krisis sampah, hasil Jilid Dua (tanpa harus menakut-nakuti) punya potensi mengakibatkan krisis lebih besar buat Bali dan masa depannya.
“Semoga saja krama Bali sadar akan risiko masa depan yang dihadapinya.
Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Bali,” Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

